RSD dr. Soebandi Jember Butuh Tambahan 185 SDM, Siapkan Gedung Baru dan Status RS Pendidikan

Reporter : Muhammad Hatta
Plt. Direktur RSD dr. Soebandi Jember, I Nyoman Semita, saat memberikan keterangan kepada wartawan. (Hatta/Klikjatim)

KLIKJATIM.Com | Jember – RSD dr. Soebandi tengah mempersiapkan pengembangan besar-besaran, baik dari sisi infrastruktur maupun layanan kesehatan. Rencana pembangunan gedung baru, penambahan layanan hemodialisa, hingga transformasi menjadi rumah sakit pendidikan mendorong kebutuhan tambahan sumber daya manusia (SDM).

Manajemen mencatat kebutuhan pegawai baru mencapai sekitar 185 orang. Formasi tersebut terdiri atas perawat, dokter umum, dokter spesialis, hingga tenaga pendukung lainnya.

Baca juga: Rangkul Generasi Muda Jadi Pesan Penting Untuk Kader PDI Perjuangan di Jember

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur RSD dr. Soebandi, I Nyoman Semita, menjelaskan bahwa penambahan tersebut bukan karena kekurangan total tenaga saat ini, melainkan untuk menjawab kebutuhan pengembangan layanan ke depan.

“Kajian kebutuhan ini sudah kami lakukan sejak September 2025 secara empiris dan ilmiah dengan melibatkan sejumlah ahli. Dari hasil itu, didapatkan kebutuhan tambahan sekitar 185 orang,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (4/3/2026).

Ia merinci, kebutuhan tersebut meliputi tenaga perawat, dokter umum, dan dokter spesialis. Selain itu, perubahan status menjadi rumah sakit pendidikan untuk program spesialis juga berdampak pada kebutuhan tenaga administrasi, tenaga kebersihan untuk gedung baru, serta tenaga ahli yang akan berperan sebagai pendidik.

Menurut Nyoman, kebutuhan pegawai juga semakin mendesak karena potensi berkurangnya tenaga dokter. Dalam waktu dekat, berdirinya Rumah Sakit Universitas Jember diperkirakan akan menarik sekitar 30 dokter yang selama ini diperbantukan di RSD dr. Soebandi.

Di sisi lain, lima dokter umum tengah menempuh pendidikan lanjutan, sementara beberapa dokter spesialis mengambil subspesialis. Kondisi ini membuat beban pelayanan, khususnya di unit strategis seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD), semakin berat.

“Kalau operasi elektif mungkin bisa ditunda. Tapi kalau stroke, cedera otak, patah tulang, itu tidak bisa menunggu. Karena itu kami terpaksa menerima tenaga baru, tetapi tetap melalui proses pelatihan sekitar tiga bulan agar sesuai standar,” jelas dokter spesialis ortopedi tersebut.

Baca juga: Pemkab Jember Rekom Penutupan Dua Dapur MBG ke BGN

Pengembangan fisik rumah sakit juga tengah dipercepat. Manajemen menargetkan pembangunan dan renovasi gedung empat lantai dimulai Maret atau April, dan diharapkan dapat diluncurkan pada Agustus mendatang. Gedung tersebut akan difungsikan untuk layanan kelas 1, 2, dan 3 sekaligus pusat pendidikan.

Untuk mendukung pembiayaan, rumah sakit menjajaki kerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), perusahaan di bawah Kementerian Keuangan, melalui skema pinjaman lunak.

Saat ini, kapasitas tempat tidur RSD dr. Soebandi sekitar 388 unit. Dengan jumlah penduduk Jember mencapai 2,7 juta jiwa serta perannya sebagai rumah sakit rujukan dari tujuh kabupaten/kota sekitar, kebutuhan tempat tidur diproyeksikan bisa mencapai 700 unit. Penambahan hingga sekitar 400 tempat tidur dinilai masih dalam batas wajar bagi pengembangan rumah sakit rujukan.

Terkait mekanisme rekrutmen, Nyoman mengaku masih menunggu kepastian regulasi pemerintah. Ia berharap kebijakan yang diambil mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan kebutuhan pelayanan publik.

Baca juga: Nobar Film Pesta Babi Digelar di Kampus dan Perumahan Jember, Politis PDIP Ikut Nonton

“Harus melalui mekanisme yang jelas. Kalau tidak, ujungnya freelance karena alasan darurat. Kami menunggu kebijakan yang tepat,” katanya.

Ia juga menegaskan tidak ingin terlibat langsung dalam proses seleksi guna menghindari praktik titipan. Manajemen berencana menggandeng pihak independen dan profesional agar proses rekrutmen berjalan transparan dan akuntabel.

Soal tambahan anggaran akibat rekrutmen, pihaknya belum menghitung secara rinci karena saat ini fokus pada pemetaan kebutuhan tenaga. Namun Nyoman optimistis sektor kesehatan memiliki prospek berkelanjutan.

“Kesehatan, pendidikan, dan pangan adalah sektor yang selalu dibutuhkan. Dengan jumlah penduduk besar dan status sebagai rumah sakit rujukan, pangsa pasar masih luas. Tapi yang utama bukan sekadar bisnis, melainkan tugas kemanusiaan,” tegasnya.

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru