KLIKJATIM.Com | Surabaya -Memasuki periode menjelang Ramadan, tren permintaan tepung terigu Bogasari terus tumbuh. Ini didorong oleh konsumsi rumah tangga dan aktivitas UMKM yang bersiap menghadapi lonjakan produksi kue serta roti.
Vice President Marketing Bogasari Wilayah Indonesia Timur, Yulius Ronadi, menyebutkan bahwa kinerja penjualan pada Januari–Februari 2026 masih mencatat pertumbuhan positif sekitar 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: Gubernur Khofifah Terima Penghargaan Tertinggi Dwija Praja Nugraha
“Untuk dua bulan pertama tahun ini, ada pertumbuhan kurang lebih 3%. Biasanya memang menjelang Ramadan permintaan mulai meningkat,” ujar Yulius di Surabaya, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, kenaikan tersebut merupakan pola musiman yang wajar. Awal tahun menjadi fase konsolidasi sebelum memasuki Ramadan, periode ketika kebutuhan bahan baku pangan meningkat cukup tajam.
Salah satu produk dengan pertumbuhan paling signifikan adalah Tepung Terigu Kunci Biru kemasan 1 kilogram. Produk ini banyak digunakan untuk membuat kukis dan kue kering, yang permintaannya sudah mulai meningkat sejak awal tahun.
“Khusus Kunci Biru 1 kilogram, pertumbuhannya sudah dua digit, di atas 10%, terutama untuk kebutuhan kukis,” jelasnya.
Secara keseluruhan, rata-rata kenaikan penjualan berada di kisaran 2%–3%. Selain kemasan ritel 1 kilogram, permintaan dari industri biskuit juga menguat, khususnya untuk kemasan 2–5 kilogram.
Dari sisi harga, perusahaan memastikan belum ada penyesuaian. Meski konflik di Timur Tengah berpotensi mengerek ongkos logistik global—terutama jika distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz terganggu—hingga kini dampaknya belum dirasakan secara langsung terhadap biaya produksi.
“Sejauh ini belum berdampak langsung. Potensi kenaikan lebih ke ongkos transportasi karena faktor bahan bakar,” ujarnya.
Baca juga: Wagub Emil Wagub Tegaskan Pentingnya Peran Mahasantri Merajut Kepemimpinan Nasional
Apabila jalur pelayaran strategis tersebut terganggu, kapal distribusi kemungkinan harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika, yang tentu menambah biaya. Namun demikian, pasokan gandum sebagai bahan baku utama masih dalam kondisi aman.
Bogasari memperoleh gandum dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Hingga awal 2026, tidak terdapat gangguan signifikan pada rantai pasok.
Dari struktur pasar, segmen UMKM menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 60%–65�ri total penjualan. Industri besar menyumbang 20%–25%, sementara sisanya berasal dari konsumsi rumah tangga.
“UMKM memang paling dominan. Retail kuat, industri juga tetap tumbuh,” katanya.
Baca juga: Gubernur Khofifah Berangkatkan Tim Bakti Negeri Anak Bangsa
Untuk wilayah Indonesia Timur, kontribusi terbesar tetap berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan porsi sekitar 70%, sementara sisanya tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Prospek konsumsi terigu sepanjang 2026 diproyeksikan tetap positif. Selain nasi sebagai makanan pokok utama, mi berbasis terigu menjadi salah satu konsumsi terbesar masyarakat Indonesia. Posisi terigu sebagai komoditas strategis turut menopang permintaan domestik.
Harga terigu sendiri dipengaruhi oleh tiga faktor utama: harga gandum global, keseimbangan suplai dan permintaan, serta biaya transportasi. Pengalaman sebelumnya menunjukkan gangguan cuaca di negara produsen—seperti kekeringan di Australia—dapat memicu kenaikan harga akibat penurunan produksi.
Dengan pasokan yang terjaga dan permintaan yang solid menjelang Ramadan, perusahaan optimistis tren pertumbuhan akan berlanjut hingga akhir 2026.
Editor : Wahyudi