KLIKJATIM.Com | Lamongan — Penutupan rangkaian Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026 di Kabupaten Lamongan pada Kamis (12/2/2026) menjadi momentum refleksi mendalam bagi pemangku kepentingan.
Pemerintah, dunia usaha, pengawas ketenagakerjaan, hingga perwakilan pekerja sepakat bahwa K3 tidak boleh lagi dipandang sebagai sekadar kewajiban administratif, melainkan harus tumbuh menjadi budaya yang mendarah daging dalam setiap organisasi.
Baca juga: Tutup Turnamen Sepak Bola Pelajar 2026, Bupati Yes Optimis Muncul Bibit Unggul dari Bumi Lamongan
Ketua Penyelenggara Bulan K3 Nasional 2026 Komunitas K3 Lamongan, Muhammad Hamzah, S.K.M., dalam agenda gathering pimpinan badan usaha menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tahun ini dirancang sebagai pemantik perubahan pola pikir pelaku usaha dan pekerja.
“Bulan K3 bukan hanya agenda rutin. Ini ruang evaluasi dan penguatan komitmen. Kami ingin perusahaan tidak berhenti pada kelengkapan dokumen, tetapi memastikan keselamatan benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari di tempat kerja,” ujar Muhammad Hamzah.
Selaras dengan hal tersebut, Wakil Ketua Dewan K3 Provinsi Jawa Timur, Edi Priyanto, memberikan paparan strategis mengenai pentingnya membangun ekosistem K3 yang profesional. Ia menekankan bahwa keselamatan kerja harus diposisikan sebagai fondasi dasar operasional, bukan sekadar prioritas yang bisa berubah sewaktu-waktu.
“Prioritas dapat berubah mengikuti tekanan target produksi atau efisiensi biaya. Namun keselamatan merupakan prasyarat yang tidak dapat ditawar sebelum aktivitas kerja dimulai. Keselamatan bukan sekadar isu teknis di lapangan. Ia adalah hasil keputusan strategis pimpinan. Budaya keselamatan selalu dimulai dari arah dan keteladanan pemimpin,” jelas Edi Priyanto.
Edi menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menerjemahkan sistem K3 dan SOP yang ada menjadi perilaku nyata di lapangan. Ia mendorong organisasi untuk bergerak menuju fase interdependent, di mana setiap individu memiliki kesadaran kolektif untuk saling menjaga tanpa perlu diawasi secara ketat.
Baca juga: Sukses di Bisnis Landscape Nasional, M. Novianto Siap Bawa Inovasi Hijau untuk Kemajuan Lamongan
“Organisasi unggul adalah organisasi yang berada pada fase interdependent, ketika keselamatan menjadi tanggung jawab kolektif,” tegasnya.
Dukungan dari pemerintah provinsi turut disampaikan oleh Kepala Bidang Ketenagakerjaan dan K3 Disnakertrans Jawa Timur, Tri Widodo. Ia menegaskan bahwa fungsi pembinaan dan pengawasan akan terus diperkuat guna menciptakan ekosistem kerja yang andal.
“Kami tidak hanya mendorong kepatuhan regulasi, tetapi membangun kesadaran kolektif. Perusahaan yang kuat adalah perusahaan yang selamat. Pembinaan dan pengawasan akan terus dilakukan secara berkelanjutan,” tutur Tri Widodo.
Baca juga: Peringati May Day, Pemkab Lamongan Tegaskan Buruh Sebagai Pahlawan Pembangunan Daerah
Bupati Lamongan, Dr. Yuhronur Efendi, M.B.A., M.Ek., yang hadir langsung bersama jajaran Forkopimda, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian K3 di wilayahnya. Sebagai informasi, pada awal 2026, Kabupaten Lamongan berhasil meraih penghargaan Pembina K3 Terbaik I Kategori Gold di Jawa Timur dengan total 64 penghargaan yang mencakup berbagai kategori seperti SMK3 dan Zero Accident.
“Produktivitas tidak akan tercapai tanpa keselamatan. Investasi terbesar kita adalah manusia. Budaya K3 harus menjadi bagian dari sistem nilai organisasi dan karakter dunia kerja,” tegas Bupati yang akrab disapa Pak Yes tersebut.
Dalam kesempatan itu, Bupati dan Wakil Bupati Lamongan secara simbolis menyerahkan penghargaan K3 kepada sejumlah perusahaan yang telah menunjukkan performa gemilang. Penutupan Bulan K3 ini menjadi tonggak sejarah baru bahwa keselamatan bukan sekadar upaya mencegah kecelakaan, melainkan misi menjaga martabat manusia dan keberlanjutan dunia kerja di Lamongan.
Editor : Fatih