KLIKJATIM.Com | Lamongan—Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lamongan berinovasi menggunakan drone untuk mengendalikan hama. Pengendalian hama dengan drone ini dilakukan di 10 hektar lahan areal persawahan Desa Blawirejo Kecamatan Kedungpring, Kamis (2/6/2022).
Kabupaten Lamongan sendiri dinobatkan sebagai lumbung pangan produksi padi nomor 1 di Provinsi Jawa Timur. Guna terus memperkuat produksi padi dengan melibatkan kemajuan teknologi di bidang pertanian, salah satunya dengan gerakan pengendalian (Gerdal) hama dengan menggunakan drone.Â
Baca juga: Sajikan 94 Agenda Ikonik, Lamongan Luncurkan Kalender Event 2026 untuk Dongkrak Wisata dan Ekonomi
Berkesempatan hadir dan mengoperasikan drone secara langsung, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi. Dirinya menuturkan, penyakit blas pada padi menjadi perhatian Pemkab Lamongan karena dipastikan akan mengganggu produksi padi di Lamongan. Karenanya, perlu dilakukan tindakan pemberantasan penyakit tersebut, salah satunya dengan menggunakan kecanggihan teknologi yakni drone.
"Ini akan menjadi prioritas, kami akan menambah jumlah lahan yang akan dilakukan gerdal. Karena penyakit blas bisa dikatakan penyakit yang berbahaya jika tidak segera dilakukan penanganan," terang Pak Yes.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lamongan, Sukriyah, pada kesempatan yang sama menuturkan, Gerdal penyakit blas dengan menggunakan drone ini sudah dilakukan sejak Rabu (1/6/2022) kemarin, dan akan terus dilakukan pada keseluruhan lahan sawah di Kecamatan Kedungpring.
Baca juga: Bursa Transfer Panas! Persela Tambah 6 Pemain, Kiper Jadi Target Berikutnya
Sukriyah menambahkan, Lamongan tergolong kawasan yang kronis endemis, terlebih penyakit blas merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur pylicularia grisea. Jamur ini dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi, mulai dari fase pembibitan sampai pada fase generatif. Tanaman yang terserang penyakit blas memiliki ciri bercak coklat berbentuk belah ketupat pada daun tanaman padi.
Dikatakannya, penggunaan drone dalam pengendalian penyakit blas ini akan lebih efektif, waktu pengerjaan kegiatan bertani jauh lebih cepat. Dengan drone yang bisa menyebarkan pestisida mampu menangani penyakit blas dalam waktu 15 menit pada lahan satu hektar. Begitupun dengan banyaknya pestisida atau biayanya, yang biasanya secara manual menghabiskan 40 Liter untuk 1 hektar, dengan teknologi ini hanya menghabiskan 10 liter pestisida.
"Kami melibatkan kemajuan dan kecanggihan teknologi yang ada di bidang pertanian. Dengan alasan akan lebih efektif. Dalam hal, menggunakan drone," tutur Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan Sukriyah.
"Memasuki era baru yang penuh dengan kemajuan teknologi. Kita sebagai pemerhati dan pelaku bidang pertanian harus turut serta menerapkan, hal tersebut sebagai mengikuti revolusi perkembangan pertanian, dari situ kita dapat membedakan bertani dalam setiap kurun waktu," terangnya.(mkr)
Editor : Rozy