KLIKJATIM.Com | Surabaya - Sentimen global dampak dari eskalasi Rusia dan Ukraina diperkirakan membuat ekonomi nasional terdampak. Masalahnya kedua negara yang bergejolak memiliki pasar di Jawa Timur dan Indonesia.
Hal inilah yang dikhawatirkan Gabungan Perusahaan Eksportir (GPEI) Jawa Timur, gejolak tersebut memberi efek domino yang panjang.
Baca juga: Mentan Dorong SGN Perkuat Sinergi Wujudkan Swasembada Pangan
Ketua GPEI Jatim, Isdarmawan Asrikan menegaskan bahwa kedua negara memiliki hubungan dagang dengan Jatim. salah satunya adalah pasar kopi susu kemasan asal Jatim di Rusia cukup tinggi. Begitu juga dengan Ukraina menjadi salah satu negara penyuplai gandum terbesar ke Indonesia dan Jawa Timur.
“Itulah sebabnya, kita harus memperkuat bahan baku penolong dari dalam negeri. Yakni dengan memperkuat produk pertanian, kebetulan nilai ekspor cukup bagus pada Februari kemarin,” kata Isdarmawan Asrikan, Kamis (24/3/2022).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, nilai ekspor produk pertanian tercatat USD137,9 juta, atau berkontribusi 7,4 persen dari total ekspor Jatim yang mencapai USD1,8 miliar.
Isdarmawan meminta pemerintah concern dan membenahi hulu hasil pertanian dan perkebunan. Menurutnya, Indonesia dengan budaya dan basic agraria, namun tidak ditunjang dengan hasil yang memadai. Di satu sisi lahan yang tersedia cukup luas dan memiliki teknologi pangan yang bisa menunjang.
“Contohnya panen coklat yang masih di kisaran 600-700 kg per hektar. Idealnya 1-1,5 ton per hektar. Begitu juga dengan kopi, rata-rata nasional kurang lebih sama, dan di bawah standar. Ini yang perlu dibenahi untuk mengantisipasi terjadinya gejolak ekonomi,” lanjutnya.
Selain eskalasi Rusia dan Ukraina, masalah lain adalah kenaikan ocean freight (ongkos kapal) ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat (AS) dan Asia lainnya. Sebelum pandemi Covid-19 harga peti kemas ukuran 40 kaki tujuan main port Eropa di kisaran USD2.500. Pada saat merebaknya virus corona tembus USD15.000 ukuran yang sama.
Begitu juga dengan tujuan east coast di AS sebelum pandemi tarif peti kemas ukuran serupa USD3.000-USD4.000. Kini tarifnya di kisaran USD19.000-21.000. Sedangkan tujuan west coast AS tarif sebelum pandemi USD2.000-USD3.000, kini sudah mencapai USD13.000-USD15.000. Itu pun masih tergantung space peti kemas.
“Gandum yang didatangkan dari Ukraina, harganya diperkirakan mahal dan sulit didapat. Nah, solusinya bisa disiasati dengan tepung mokaf. Sekaranglah waktunya memperbaiki kualitas dan produktivitas hasil pertanian atau perkebunan,” Isdarmawan menambahkan.
Baca juga: Alun-Alun Pacitan Bergemuruh, Konsumen Setia Honda Boyong Hadiah Motor dalam Pengundian UKH
Solusi ini untuk mengantisipasi kelangkaan bahan baku impor. Sekaligus menekan biaya sebagai akibat sentimen global yang menyeret perekonomian nasional. (arif)
Baca juga: Siswa TSM Honda Binaan MPM Sapu Bersih Podium LKS Jatim 2026: Wujud Nyata Sinergi Bagi Negeri
Editor : Redaksi