Guru SD Cabuli 8 Muridnya Sejak November 2019

klikjatim.com
Guru SD Cabul menutupi mukanya saat ditunjukkan polisi ke media di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (12/3/2020).

KLIKJATIM.Com | Surabaya - Belum selesai pemeriksaan pendeta cabul, Unit Renata Satreskrim Polrestabes Surabaya kembali menangani kasus serupa. Kali ini, seorang oknum guru SD melakukan pencabulan pada 8 muridnya sejak November 2019 lalu. Nicholas Handy Biantoro, 40, dilaporkan mencabuli korbannya lima siswa dan 3 siswi antara kelas 3 hingga kelas 5.

[irp]Tersangka yang berdomisili Perumahan Nirwana Eksekutif Blok EE, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, kini dijebloskan ke sel Polrestabes Surabaya. Tersangka bakal mendekam di tahanan cukup lama. Sebab, polisi bakal menjerat dengan Pasal 82 ayat 1 dan 2 UU 17/2016 Jo pasal 76E UU 35/2014 tentang perubahan kedua atas UU RI 2/2002 tentang Perlindungan Anak dengan pidana penjara paling lama 15 tahun penjara.

Baca juga: Polrestabes Surabaya Gagalkan Peredaran 84,7 Kg Sabu dan 40 Ribu Butir Ekstasi

[irp]Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya Kompol Ardian Satrio Utomo kepada wartawan menjelaskan, modus tersangka mengerjai para korbannya dengan meminta muridnya ke rumahnya di Perumahan Nirwana Eksekutif. Di rumah, korban dimandikan dulu oleh tersangka sambil diraba-raba bagian sensitifnya. Selanjutnya, korban diminta rebahan di kamar tidur dan diperiksa menggunakan stetoskop. Korban perempuan diraba dada dan bagian vitalnya, begitu juga dengan korban pria. “Pengakuannya pencabulan juga ada yang dilakukan di kamar mandi sekolah, ruang kosong, hingga di ruang kelas saat keadaan sepi,” ujar Wakasatreskrim.

Baca juga: Demo di Depan Mapolrestabes Surabaya Ricuh, Massa Rusak Fasilitasi Umum

[irp]

Baca juga: Pos Polisi Taman Bungkul Surabaya Terbakar

Jadi, kata Kompol Ardian, stetoskop tersebut digunakan untuk memeriksa kesehatan, walaupun tersangka tidak memiliki kemampuan kedokteran. Tapi tersangka berusaha untuk mengecek kesehatan dari para korban sampai membuka baju sampai dengan meraba -raba dan membersihkan alat kelamin.“Alasannya dia kasihan ingin membersihkan, membersihkan dari kotoran kotoran karena indikasi korban ini memang anak-anak yang tergolong masih kurang paham,” lanjutnya.Kasus ini terungkap setelah salah satu murid melaporkan kejadian yang dialami pada orang tuanya karena kesakitan. Saat ini, polisi masih mendalami dugaan adanya kelainan seksual dan kondisi kejiwaan pelaku. (lam/mkr)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru