Terkendala Runway, Pengembangan Bandara Harun Thohir Lambat

klikjatim.com
Anggota Komisi D DPRD Jatim, Samwil. (Try Wahyudi K/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya - Upaya pengembangan terhadap Bandara Harun Thohir Bawean---pulau terluar---Kabupaten Gresik bisa dibilang lambat. Padahal pembangunan bandara perintis ini bersamaan dengan Sumenep dan Banyuwangi, yang saat ini bisa digunakan pesawat ATR.

Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota Komisi D DPRD Jatim, Samwil. "Memang saya akui untuk bandara Bawean ini masih kurang lahannya karena berada di antara jurang dan padat penduduk. Tapi walaupun demikian, Dishub Jatim, Kabupaten dan Pusat harus segera memperpanjang runway dengan melakukan pengurukan tanah di Laut Bawean yang dekat bandara," katanya, pada Jumat (28/2/2020).

Baca juga: Pesawat ATR Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros Sulsel

Sebenarnya penerbangan di Bawean ini sudah disiapkan naik kelas. Bahkan pihak Pemerintah Provinsi serta Pemda Gresik sudah meninjau ke lokasi, namun hasilnya tetap membutuhkan perpanjangan runway sekitar 1.400-1.500 meter.

[irp]

Dan, kenyataannya sampai sekarang belum dapat terealisasi. Sedangkan bandara ini sangat penting bagi masyarakat untuk sarana transportasi.

"Sampai sekarang belum ada rekomendasi yang masuk ke Pusat, padahal target perpanjangan runway ini dilaksanakan pada tahun 2018," paparnya.

Jika perpanjangan runway selesai, lanjut Samwil, bandara Harun Thohir akan melayani penerbangan dengan pesawat jenis ATR. Sehingga kapasitas penumpangnya bisa lebih banyak dibandingkan saat ini hanya 12 orang.

Baca juga: Tahun Baruan, 4 Warga Sidoarjo Tersesat di Hutan Bawean

Lebih jauh lagi diterangkan, bahwa upaya ini bagian dari menunjang percepatan pembangunan sesuai Perpres 80 tahun 2019. "Selain masalah bandara Harun Thohir, sarana transportasi yang harus dibenahi juga adalah layanan kapal laut. Misalnya di Bawean ada ASDP dan pihak swasta dengan kapal cepatnya yang sudah konvensional agar ditingkatkan lagi," imbuhnya.

[irp]

Karena saat ini masyarakat membutuhkan kapal cepat yang bisa melawati ombak di Laut Bawean setinggi 3 sampai 4 meter. Sehingga diharapkan tidak ada penundaan jadwal kapal lagi.

Baca juga: Bupati Yani Tegaskan Komitmen JIIPE Prioritaskan Warga Gresik

Samwil menambahkan, untuk hasil pertemuan dengan Dinas Perhubungan (Dishub) beberapa waktu lalu juga tidak ada program signifikan sebagai pendukung Perpres 80/2019. Antara lain hanya program membangun dermaga dan penambahan kapal.

"Tapi rencana tersebut saya nilai kurang dan sama seperti tahun sebelumnya. Jadi solusi konkretnya saya meminta kepada Dishub agar memperbaiki pelayanan perhubungan yang sudah ada lebih dioptimalkan," pungkas Samwil politisi asli Bawean ini. (tryk/nul)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru