KLIKJATIM.Com | Gresik — Gerimis mendung menyelimuti pemakaman Islam Desa Petiken. Meski rintikan hujan tak menyurutkan nyali Sujiadi. Ya, Sujiadi mencari keadilan untuk anaknya SF yang menjadi korban kecelakaan.
[irp]
Baca juga: Dzikir dan Tazkiyatun Nafs Jadi Terapi Spiritual Warga Sedagaran untuk Jaga Kesehatan Mental
Siang itu jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Di lokasi, proses autopsi dijaga ketat oleh aparat dan berlangsung tertutup. Kegiatan bongkar mayat untuk keperluan anak kedua Sujiadi selesai. Namun hasil dari autopsi belum dipastikan oleh polisi. Karena masih menunggu uji hasil dari dokter forensik.
Pria yang berusia 52 tahun didampingi kuasa hukum anaknya Rohmad Jazuli meyakini dengan adanya autopsi ini bisa menjadi jalan keadilan baginya dan keluarganya yang ditinggal korban. Korban yang masih berusia 16 tahun itu dalam kesehariannya membantu ayahnya bekerja bengkel.
“Hasil visum menyatakan ada bekas pukulan benda tumpul di tengkorak bagian belakang, dan luka robek juga dibagikan wajah,” ucap Sujiadi dengan nada lirih.
Dengan mengenakan pakaian putih dan berkopyah Sujiadi menyakini, SF diduga menjadi korban pembunuhan. Nah dengan autopsi inilah keluarga korban ingin kejelasan yang menimpa SF.
“Semoga hasil autopsi segera keluar, supaya pelaku terungkap sekaligus motifnya,”ujarnya.
Sujiadi menceritakan, ada beberapa kejanggalan saat anaknya meninggal. Kejanggalan itu dapat ditemukan di wajah dan kepala korban.
“Selain itu semua anggota tubuh masih utuh begitu juga pakaian yang dikenakan korban. Laporan kecelakaan juga tidak melibatkan kami, tanpa mengajak kami. Tiba-tiba ada laporan motif laka tunggal,” ucapnya.
“Dan yang bonceng bersama anak saya (korban Red) tidak ada luka sama sekali,” tambahnya.
Baca juga: Perkuat Semangat Kebersamaan Iduladha, MPM Honda Jatim Salurkan Puluhan Hewan Kurban
Bahkan diakui bapak tiga anak itu sempat ada yang menawarkan santunan sejumlah uang untuk mencabut laporan tersebut. Anehnya, yang membuatnya tawaran damai tersebut datang dari pihak keluarga RN. Orang yang terakhir kali bersama SF sebelum ditemukan meninggal dunia.
“Banyak kejanggalan, waktu kejadian RN sama SF anak saya ini kan boncengan. Kalau ini murni kecelakaan kok bisa anak saya saja yang meninggal atau luka. Sedangkan temannya baik-baik saja tidak ada goresan sama sekali,” terangnya.
“Padahal temannya itu kehilangan sepeda motor. Katanya dibawa kabur orang pasca terjadi kecelakaan. Lah ini kok minta maaf dan minta agar kasusnya ditutup,” tambahnya.
Kendati belum ada hasil autopsi, Sujiadi yakin dengan kerja optimal kepolisian bisa mengungkap fakta korban anak keduanya itu.
“Setelah dilakukan autopsi ini. Hasil autopsi ini akan dijadikan bahan gelar perkara di Polda Jatim,” tambah Rohmad Jazuli.
Baca juga: Nobar Film Dokumenter Pesta Babi di Bojonegoro Jadi Ajang Diskusi Kritis Penonton
Di tempat yang sama, Kasatreskrim Polres Gresik Iptu Wahyu Rizki Saputro mengatakan, tindakan autopsi digelar supaya kasus meninggalnya SF ini lebih terang. Apakah memang ada modus pembunuhan atau memang murni korban laka lantas.
“Kami akan melakukan penyelidikan ini secara prosedur, profesional sesuai dengan SOP yang ada. Setelah dilakukan autopsi dan hasilnya keluar, akan kami lakukan gelar dengan melibatkan ekternal maupun internal agar sifatnya bisa membuktikan mana yang benar,” jelas Kasat Reskrim Polres Gresik Wahyu.
Diakuinya, hasil autopsi tidak bisa langsung dilihat. Perlu penelitian khusus dari dokter forensik. Dalam hal ini, pihaknya menyerahkan kepada tim Polda Jatim yang terlibat kapan hasil autopsi bisa tersajikan.
“Hasil autposi dokter forensik yang tahu. Kita juga libatkan tim forensik internal dan eksternal. Kita melakukan upaya secepat mungkin. Agar tidak ada anggapan lain atau asumsi lain laka atau pembunuhan,” terangnya. (bro)
Editor : Redaksi