KLIKJATIM.Com | Tulungagung - Ketua Paguyuban Peternak Ayam Tulungagung, Abu Sofyan Munir mengatakan bahwa kondisi peternak ayam di Tulungagung saat ini bisa dibilang sekarat dan hampir mati. Pasalnya kenaikan harga jagung yang dirasakan sejak 3 bulan terakhir, dan diperparah dengan kondisi turunya harga telur ayam di pasaran.
[irp]
"Kondisi peternak saat ini sekarat mas. Sebentar lagi mati, ya memang itu kenyataanya," ujar Munir.
Dia menerangkan, setiap hari mereka rata-rata merugi Rp500 per 1000 ekor ayam. Artinya, ketika ada peternak ayam memiliki 100 ribu ekor ayam maka setiap harinya harus menanggung rugi sebesar Rp500 ribu.
Hal ini terjadi karena harga pakan ternak seperti jagung dan sentrat mengalami kenaikan hingga 50%. Kemudian harga telur ayam saat ini hanya berkisar di angka Rp12 ribu per kilogram (Kg).
Padahal untuk mencapai Break Event Point (BEP), minimal harga telur adalah Rp20 ribu per kilogramnya. "Jadi kerugiannya itu beda-beda, tergantung jumlah ayam yang dimiliki. Semakin banyak ayamnya, semakin besar kerugian setiap harinya," jelas Munir.
Kini, lanjut Munir, dirinya dan rekan sesama peternak ayam hanya bisa berharap bantuan dari pemerintah. Termasuk janji Presiden Jokowi yang mengalokasikan jagung pakan dengan harga murah untuk peternak ayam.
"Kita dijanjikan bisa dapat kuota 750 ton selama 3 bulan, baru bisa dicairkan 50 ton dan selanjutnya juga belum tahu cair lagi apa tidak," ucapnya.
Keluhan yang sama juga disampaikan oleh Perwakilan peternak ayam asal Blitar, Yesi Yuni. Dia mengaku penurunan harga telur terjadi karena hasil peternak yang melimpah, tapi permintaan masyarakat sejak PPKM mengalami penurunan signifikan.
"Harga telur turun itu sejak PPKM, karena ternaknya melimpah tapi permintaan pasar menurun karena PPKM," ungkapnya.
Parahnya lagi, menurut Yesi, di saat yang sama agregator juga tetap memproduksi telur. Sehingga jumlah telor di pasaran semakin bertambah dan harga telur tak kunjung naik.
"Jumlah jadi semakin banyak terus, makanya kita minta kebijakan pemerintah menangani hal ini," pungkasnya. (nul)
Editor : Iman