KLIKJATIM.Com I Sidoarjo – Sebagian struktur Candi Tawangalun yang terletak di Desa Buncitan, Kecamatan Sedati ambrol pada tanggal 12 September 2021 lalu. Namun sang juru kunci, Ahmad Syaiful Munir (49), justru menganggapnya sebuah keajaiban.
[irp]Syaiful bercerita, sebelumya struktur Candi Tawangalun yang terbuat dari batu bata merah pernah runtuh. Namun hanya dalam skala kecil. Satu atau dua bata saja. “Kalau dalam skala besar ya baru kali ini. Saat itu di sore hari setelah hujan reda, tiba-tiba sisi barat ambrol,” kenangnya, Senin (11/10/2021) sore. Agar kerusakan tidak semakin parah, Saiful menahan bagian atas menggunakan kayu. Ia menduga runtuhnya candi karena area tanah sekitar yang tandus. Dan berubah saat ketika hujan tiba yang mengakibatkan tanah sedikit bergeser.
Runtuhnya bangunan candi yang selama ini dijaganya tentu membuatnya kaget. Lebih kaget lagi setelah ia melihat fisik batu bata berukuran panjang 36 cm, lebar 22 cm dengan ketebalan 8 cm tersebut. “Luarnya memang terlihat lapuk karena termakan usia. Namun bata bagian dalam candi masih utuh. Seperti baru saja dicetak saja. Padahal usianya sekitar seribu tahun. Ini luar biasa. Ini keajaiban,” tuturnya.
Ia menambahkan, saat dipugar beberapa waktu lalu, batu bata Candi Dermo yang terletak di Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu terlihat rapuh. Baik sisi luar maupun dalam. “Berbeda dengan Candi Tawangalun. Bata sisi dalam masih utuh. Padahal daerah sini kadar garamnya tinggi karena lebih dekat dengan laut,” ucapnya.
Baca juga: Harga Sparepart Motor di Jember Naik 30 Persen, Pelemahan Rupiah Jadi Pemicu
Syaiful mengingatkan, runtuhnya Candi Tawangalun juga merupakan peringatan bagi generasi yang hidup di era sekarang. Ia berharap agar peninggalan sejarah peradaban manusia berupa candi dijaga dan dirawat penuh. “Karena tidak ada seorangpun manusia yang tidak terlibat dengan sejarah,” pesannya.
Menurut literasi, Candi Tawangalun dibangun di era Kerajaan Jenggala pada rentang waktu tahun 1042 hingga 1130 masehi. Candi di area perbukitan ini dibangun oleh Resi Tawangalun. Pemugaran akan dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.
Editor : Satria Nugraha