KLIKJATIM.Com | Gresik — Hasil perkembangan penanganan kasus Covid-19 di Kabupaten Gresik belum begitu menyenangkan. Secara umum memang sudah ada perkembangan lebih baik, yaitu bisa keluar dari zona merah ke zona oranye. Sayangnya, tren yang membaik itu justru melambat sehingga menjadikan Kabupaten Gresik sebagai satu-satunya zona oranye di wilayah Pantura Jawa Timur.
[irp]
Baca juga: Apresiasi Loyalitas, MPM Honda Jatim Siapkan 6 Unit Honda PCX160 Khusus untuk Konsumen Banyuwangi
Berdasarkan update peta sebaran kasus Covid-19 di Jawa Timur per 31 Agustus 2021, Kabupaten Gresik tampak dihimpit beberapa daerah tetangga yang berhasil naik satu setrip di atas Gresik dengan status zona kuning atau risiko rendah. Termasuk kabupaten kota yang masuk dalam kawasan Surabaya Raya, kini telah berubah zona kuning. Kecuali Gresik.
Selain Kota Surabaya dan Sidoarjo, kini Kabupaten/Kota Mojokerto, Jombang, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Ngawi serta daerah-daerah di tapal kuda pun zona kuning. Begitu pula dengan Pulau Madura yang meliputi Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep juga berubah kuning.
Nah, dengan kondisi yang demikian telah mendapat sorotan tajam dari kalangan anggota DPRD Gresik. Salah satunya adalah Anggota Komisi IV, Muchamad Zaifudin.
"Memang gak kita pungkiri sudah ada perkembangan yang lebih baik dari sebelumnya, yaitu sekarang sudah (zona) oranye. Tapi, dibandingkan daerah tetangga seperti Surabaya yang ketika itu kasusnya (Covid-19) sangat luar biasa malah bisa nyalip Gresik dari segi penanganan. Surabaya sekarang sudah zona kuning," tandas anggota komisi bidang kesehatan dan kesejahteraan rakyat tersebut.
Dan, yang disesalkannya lagi beberapa kepala organisasi perangkat daerah (OPD) malah dikosongkan atau dijabat pelaksana tugas (Plt) pasca gelombang mutasi jilid I oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. Utamanya dinas-dinas yang berkaitan langsung dalam penanganan pandemi Covid-19 seperti Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Satpol PP, Dinas Pendidikan, serta Dinas Sosial (Dinsos).
Menyusul kondisi yang demikian, sontak dia sempat mempertanyakan keseriusan kepala daerah dalam menangani masalah kesehatan di Gresik, khususnya pandemi Covid-19. Karena dari hasil rapat kerja komisi bersama dinkes kemarin, terungkap bahwa eksekutif tidak mengalokasikan anggaran kembali untuk Kartu Gresik Sehat (KGS) pada rancangan P-APBD 2021.
"Karena dari eksekutif tidak mengalokasikan anggaran lagi, sehingga kami minta untuk tetap dialokasikan. Hal ini sesuai target Bupati yang akan mengcover 100 persen masalah kesehatan bagi warga kurang mampu," tegasnya.
"Khususnya dalam penanganan pandemi Covid-19, saya minta Bupati segera mengisi kekosongan jabatan untuk kepala OPD dengan definitif. Sehingga kinerja dinas-dinas yang terkait bisa lebih maksimal lagi dan fokus,” tambah politisi muda asal Dapil IV (Wringinanom dan Driyorejo) ini.
Perlu diketahui berdasarkan data Pemprov Jatim, jumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Gresik per 2 September 2021 tercatat 254 kasus atau turun 16 pasien dari jumlah sebelumnya pada tanggal 1 September 2021 ada 270 kasus. Sedangkan pasien sembuh totalnya ada 12.133 per tanggal 2 September 2021.
Sementara itu Plt Kadinkes Gresik, dr. Mukhibatul Khusna saat dikonfirmasi menyampaikan, jika mengacu pada 15 indikator sebenarnya Kabupaten Gresik sudah masuk zona kuning. Namun, kewenangan terkait penentuan zonasi adalah pemerintah pusat. “Sebenarnya sudah kuning kalau kita mengacu total indikator itu, tapi itu pusat yang menentukan, semoga saja Selasa (7/9/2021) ini benar masuk zona kuning,” imbuhnya, Jumat (3/9/2021) kemarin.
Adapun capaian vaksinasi di Gresik sampai saat ini untuk dosis 1, 2 dan dosis 3 sebanyak 538.455 atau 53.22 %. Menurutnya, hampir memenuhi target 70 persen untuk mencapai herd immunity pada akhir tahun sesuai yang pernah disampaikan oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani sampaikan.
Berikut 15 indikator yang harus dilewati Kabupaten Gresik agar bisa keluar dari zona kuning oranye ke kuning :
1. Penurunan jumlah kasus positif selama dua minggu terakhir dari puncak (target ≥ 50%)
2. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP selama dua minggu terakhir dari puncak (target ≥ 50%)
Baca juga: Sinkronisasi Pusat: Khofifah Pastikan WFH ASN Pemprov Jatim Berlanjut, Jadwal Geser ke Hari Jumat
3. Penurunan jumlah meninggal dari kasus positif selama dua minggu terakhir dari puncak (target ≥ 50%)
4. Penurunan jumlah meningga kasus ODP dan PDP selama dua minggu terakhir dari puncak (target ≥ 50%)
5. Penurunan jumlah kasus positif dirawat di RS selama dua minggu terakhir dari puncak (target ≥ 50%)
6. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP di RS selama dua minggu terakhir dari puncak (target ≥ 50%)
7. Persentase kumulatif sembuh dari seluruh kasus positf
8. Kenaikan jumlah selesai pemantauan dan pengawasan ODP dan PDP selama dua minggu
9. Laju insidensi kasus positif per 100.000 penduduk
10. Angka kematian kasus positif per 100.000 penduduk
Baca juga: Perkuat Pendidikan Vokasi, MPM Honda Jatim Kini Miliki 17 TUK Astra Honda Berstandar Industri
11. Jumlah pemeriksaan spesimen meningkat selama dua minggu
12. Positivity read kurang dari < 5% (dari seluruh sampel yang diperiksa, proporsi positif hanya 5%)
13. Jumlah TT di ruang isolasi Rs rujukan mampu menampung > 20% jumlah pasien positif
14. Jumlah TT di RS rujukan mampu menampung > 20% jumlah ODP & PDP dan pasien positif
15. RT angka reproduksi efektif < 1 (sebagai indikator pelengkap).
Dengan jumlah total skor dari 15 indikator itu total 2, 525
Syarat Zonasi merah : 0-1,8 .oranye : 1,81 – 2,40. Kuning : 2,41 – 3. (nul)
Editor : Redaksi