Cara Pesantren Al-Islah Al-Mustofawiyah Tuban Didik Santri Inovatif dan Berakhlaqul Karimah

klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Tuban—Santri di era modern kini dituntut kritis dan inovatif. Namun, santri juga dilarang meninggalkan akhlaqul karimah yang menjadi ajaran dasar pondok pesantren.

[irp]

Baca juga: Menaker: Perjanjian Kerja Bersama Jadi Pijakan Perkuat Hubungan Industrial dan Produktivitas

Model pendidikan kritis, inovatif dan tetap didasari budi pekerti it uterus dipraktikkan di Ponpes Al Islah Al-Mustofawiyah, Desa Palang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.

Melalui program Pendidikan Dasar Santri Baru (DIKDASABA) santri dan santriwati dibentuk agar punya karakter kuat. Yaitu, karakter santri yang berakhlaqul karimah, kritis, kreatif, dan inovatif.

Acara yang digelar selama tiga hari itu dibekali dengan banyak materi. Seperti, Ke Al-Mustofawiyahan, Ke Al Islahan, Akhlaq, Adab, dan Tatakrama. Kemudian materi, Kerapian, Kedisiplinan, Kesehatan dan English Camp. Dengan materi yang disampaikan, santri diharpkan tidak hanya paham perihal keagamaan tapi juga luwes dalam hal pendidikan umum.

Baca juga: Peluang Besar untuk Sampang: Pengembangan Lapangan Hidayah Buka Potensi Jadi Daerah Penghasil Migas

"Prinsipnya Program DIKDASABA mengimplementasikan ilmu bagi para santri, sehingga dapat mencetak santri yang berkualitas dan berakhlakul karimah,” kata Ustad Faiz Asgoni Mahali, Sabtu (7/8/2021).

Ponpes asuhan KH Rofi'udin Sulchan ini juga memiliki program andalan. Dintaranya, Tahfidzul Qur'an dan Amtsilati atau metode cepat membaca kitab kuning. Program andalan ini juga membuat ponpes ini kerap mengirim santrinya untuk mengikuti pelatihan khusus guru Amtsilati di Mojokerto.

"Progam Amtsilati adalah metode cepat dan praktis membaca kitab kuning. Pembelajaran Amtsilati sendiri ditarget 6 hingga 12 bulan. Dengan waktu yang sudah di tentukan santri ditunutu bisa menguasai ilmu nahwu dan shorofnya," terang alumnus Santi Bahrul Ulum Jombang itu.

Baca juga: CIMB Niaga Luncurkan OCTO Arena di Jakarta, Perluas Pengalaman Lifestyle Padel bagi Nasabah dan Masyarakat

Melalui metode inilah, diharapkan para santri mempunyai bekal dan waktu memadai untuk mendalami berbagai ragam khazanah kitab kuning. Pasalnya saat menggunakan metode tersebut, para santri tak harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menguasai dua cabang ilmu nahwu dan shorof sebagai prasyarat dasar untuk membaca kitab.

"Hanya dalam hitungan bulan, seorang santri sudah bisa membaca kitab dan jika kemampuan ini diasah secara konsisten, maka santri bersangkutan akan mahir baca kitab dalam tempo yang relatif lebih singkat," pungkasnya.(*)

Editor : M Nur Afifullah

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru