Setelah Mengancam Nakes, Pria di Ponorogo Memilih Minta Maaf

klikjatim.com
Pemilik akun facebook Hery Dlondonge Wong Keling saat menyampaikan permohonan maaf melalui video

KLIKJATIM.Com | Ponorogo - Pemilik akun facebook Hery Dlondonge Wong Keling tak segarang saat berkomentar di media sosial (medsos) facebook. Warga Kecamatan Balong itu minta maaf setelah mengancam akan membunuh nakes lantaran telah meng-covidkan banyak orang. 

[irp]

Screnshot berisi ancaman itu pun viral. Dalam komentarnya, dia mengetik 

Baca juga: Pimpin Upacara HUT Ke-81 RI di Grahadi, Gubernur Khofifah Gelorakan Semangat Kedaulatan, Keadilan, dan Kemakmuran Bangsa

"Golek i ae dokter e terus di tekek opo di sontek mati.... Ben kapok... Covid e wis ilang tpi dokter sing sik ngetokne virus iki langsung ae di golek i sopo sing nangani pasien terus di idak cengel e ben ra kesuwen"

(Cari saja dokternya lalu dicekik apa disuntik mati. Biar jera. Covid sudah hilang tapi dokter yang masih mengeluarkan virus ini langsung saja dicari siapa yang menangani pasien. Lalu diinjak lehernya biar tidak kelamaan). 

Beberapa hari kemudian muncul, video permintaan yang bersangkutan memilih minta maaf. Dalam video berdurasi 1 menit 31 detik meminta maaf. 

Dia juga berjanji tidak akan melakukan tindakan serupa. Menurutnya dia khilaf dan emosi.  Kanit Pidsus Satreskrim Polres Ponorogo, Ipda Agus Tri mengungkapkan pihaknya telah mengambil langkah dengan berkoordinasi bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat.

"Jadi benar berdasarkan di medsos  ada kalimat atau penyampain yang mengarah mengancam suatu institusi dalam hal ini dokter," kata Agus, Selasa (1/6/2021). 

Setelah melalui pendekatan bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat pemilik akun tersebut merasa bersalah. "Mereka mengakui itu hal yang salah dan memohon maaf melalui video kepada dokter dan tenaga kesehatan," lanjutnya.

Menurut Agus, orang-orang tersebut merupakan kelompok awam yang pemahaman terhadap Covid-19 serta layanan kesehatan masih minim. "Untuk itu lah masyarakat harus bijaksana dalam menggunakan sosmed, dan tidak mudah terprovokasi hal-hal yang tidak dimengerti secara jelas," tambahnya.

Baca juga: Sambut HUT Ke-81 RI, Relawan Jember Gelar Safari Merah Putih: Konvoi Hingga Bentangkan Kain 81 Meter

Agus meminta masyarakat mencari dulu kebenaran suatu kabar sebelum membagikan ke rekan ataupun saudaranya yang lain. 

Sebelumnya, Beberapa akun Facebook memberikan komentar berisi ancaman terhadap dokter di Ponorogo. Setelah anggotanya mendapat teror di media sosial (medsos), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) setempat meminta perlindungan polis, bahkan bupati.

Ketua IDI Cabang Ponorogo, Aris Cahyono menyebut, ancaman melalui medsos itu memang sering diterima tenaga

kesehatan (nakes), termasuk para dokter, di masa Pandemi Covid-19 seperti sekarang.

"Akhir-akhir ini banyak di media sosial terutama Facebook. Banyak yang menganggap pasien di-covid-kan. Istilah itu memang banyak muncul di masyarakat," ujar Aris, Selasa (1/6/2021).

Baca juga: Momen HUT Ke-81 RI, Bupati Sampang Ajak Seluruh Lapisan Masyarakat Kolaborasi Bangun Daerah

Dokter spesialis kulit ini menyebut bahwa istilah muncul dipicu, misalnya seorang pasien masuk rumah sakit berawal dari sakit jantung, diabet, tetapi saat dites, pasien juga terpapar Covid-19.

"Nah, yang harus dipahami, pasien itu tetap sakit jantung. Sedangan status covidnya, dibilang ditambahin. Dari situ muncullah istilah dicovidkan," papar dia.

Menurut Aris, berawal dari istilah tersebut, kemudian ditemukan sederet ancaman terhadap para dokter melalui media sosial. Dia mengaku sedih, karena para nakes yang selama berjuang melawan Covid-19, malah mendapat ancaman. "IDI berserah pada petugas hukum dan memohon perlindungan penegak hukum dan bupati," tambahnya. (rtn)

Editor : Fauzy Ahmad

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru