KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - Momen Hari Guru Nasional yang berlangsung pada Senin (25/11/2019) ini membawa banyak orang cukup prihatin pada kondisi para guru. Banyak guru yang kehidupannya terbatas. Hal itu juga yang dialami Bu Novia. Namun, Guru cantik asal Desa Soko Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro itu tak pernah patah semangat mengajar di pedalaman Bojonegoro selama 4 tahun terakhir.
Guru SDN 3 Soko ini menceritakan, sejak lulus SMA dirinya sudah bercita-cita menjadi guru. Guru Bahasa Inggris tepatnya. Namun, cita-citanya sedikit meleset. "Tidak jadi mengajar Bahasa Inggris, tetapi jadi Guru kelas di SD. Jadi, mengajar semua mata pelajaran," ujar gadis bernama lengkap Novia Dwi Kristina.
Baca juga: Antisipasi Banjir, TNI dan Warga Sukorejo Gotong Royong Bersihkan Sungai Avur
[irp]
Awal mula dia mengajar di SDN Soko 3 adalah permintaan orang tua. Selain itu, lembaga pendidikan formal tersebut juga telah melamarnya untuk turut serta membantu di sekolah. "Saya mulai mengajar sekitar September 2015. Jadi, kalau sampai sekarang sudah 4 tahun lebih," ucapnya.
Beberapa bulan pertama terasa berat. Salah satunya adalah saat harus mengendalikan para siswa. Pelajar SD yang masih usia anak-anak memang lebih suka untuk bermain. "Kadang ada yang terlalu aktif dan sulit diatur. Inilah tantangan yang kemudian menjadi pelajaran bagi saya," imbuhnya.

Baca juga: Lewat SAPA BUPATI, Warga Sampaikan Jalan Rusak dan PJU, Bupati Bojonegoro Instruksikan Tindak Lanjut
Gadis kelahiran 17 November 1997 ini menambahkan, setelah berjalan hampir setahun, dia bisa menikmati dunianya, meskipun perjuangannya semakin berat. Dia harus kuliah di kota sambil tetap mengajar di desanya.
"Kalau musim penghujan yang susah. Saya kalau mau kuliah harus jalan kaki 3 Kilometer untuk bisa sampai jalan raya. Baru bisa naik kendaraan roda dua atau naik kendaraan umum," kisahnya.
Kuliah sambil kerja yang dilakukan kini akan segera usai. Mahasiswi Universitas Terbuka ini telah menyelesaikan penulisan skripsi atau tugas akhir. "Alhamdulillah tinggal menunggu jadwal ujian," katanya sambil tersenyum.
Baca juga: Banjir Jalur KA Pekalongan, Ratusan Penumpang di Bojonegoro Batalkan Tiket
[irp]
Hal lain yang membuatnya miris dan prihatin adalah kondisi daerahnya. Lokasi cukup terpencil dan jauh dari jalan raya, apalagi pusat kota. Selain akses jalan yang rusak parah masih banyak, teknologi juga tergolong minim. "Masih banyak anak-anak yang belum memiliki smartphone dan tidak bisa mengoperasikan peralatan IT," keluhnya.
Pada Peringatan Hari Guru Nasional dia berharap, pemerintah daerah mau memberikan perhatian lebih. Tidak hanya pada guru dan siswa tetapi pada desanya secara umum. Kalau tidak bisa memberikan bantuan dana dan pembangunan, minimal membantu pengawasan terhadap dana yang masuk pada desa agar tidak disalahgunakan. (af/bro)
Editor : M Nur Afifullah