KLIKJATIM.Com | Gresik - Muhammad Abdullah alias Duwo sempat viral di kalangan netizen Gresik setelah kasus pemukulan beberapa waktu lalu. Lelaki 32 tahun asal Kelurahan Lumpur Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik ternyata sudah cukup lama menjadi juru parkir (jukir), yakni sekitar 20 tahun. Dia mengaku sudah sejak usia 13 tahun menekuni dunia parkir di Gresik.
"Saya waras mas, saya tidak gila," ujarnya kepada Klikjatim.com
Baca juga: Paska Insiden Pemukulan, Oknum Jukir Alun-alun Disanksi Pemberhentian Sementara
Selama ini, Duwo memang dianggap gila. Selain karena sikapnya yang agak aneh, juga ucapannya yang kurang sempurna. "Itu sudah bawaan sejak lahir. Dulu malah tidak bisa jalan, tidak bisa bawa sepeda. Kemana-mana dibonceng teman," ungkap anak ketiga dari empat bersaudara ini.
[irp]
Lelaki yang masih bujang ini menyebutkan, dia sejak usia 12 tahun sudah jadi tukang parkir. Pertama kali jaga parkir di Jalan Kartini sekitar tahun 1998. Lalu setahun kemudian pindah di Alun-alun Gresik sampai saat ini. "Saya usia 15 tahun ditinggal mati bapak dan ibu. Jadi harus mandiri sejak saat itu," kata Duwo.
Duwo dalam sehari hanya mendapatkan uang Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Sebab pendapatan dari retribusi parkir di setor ke Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik. "Alhamdulillah sudah cukup untuk makan dan juga beli jajan. Sisanya ditabung buat beli pakaian dan kebutuhan lain," jelasnya.
Baca juga: Kebut Pembahasan P-APBD 2019, Legislatif dan Eksekutif Sepakat Maraton
Duwo biasanya mengambil libur sendiri, tidak selalu Sabtu atau Minggu. Kadang dia tetap masuk meski Kantor Dispendukcapil Kabupaten Gresik sedang libur. Terkait kejadian kemarin, dia menyesal telah melakukan. "Jalan macet, disuruh ke pinggir tidak mau. Suasana juga sedang panas, akhirnya spontan saya pukul. Terlanjur emosi," cerita dia.
Teman Duwo, Nawi menambahkan, temannya memang sangat giat bekerja. Dia jarang sekali pulang. Saat sudah selesai tugas biasanya bermain sepeda di Alun-alun Gresik bersama anak-anak. "Dia memang tidak sempurna bicaranya. Tetapi dia normal. Ingin mandiri dan tak mau diremehkan," paparnya.
[irp]
Baca juga: Sah, Perubahan APBD Lamongan Tahun 2019
Nawi juga mengatakan, Duwo itu memang mudah emosi kalau diremehkan orang apalagi sampai disebut gila. Dia berharap usai kejadian kemarin tak ada lagi yang merendahkan Duwo.
"Dahulu juga sering saya bonceng. Bahkan pernah ikut ke Jakarta juga. Orangnya asyik dan sopan kalau diajak bicara baik-baik," tandasnya. (iz/bro)
Editor : Redaksi