klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Inovasi "Petan Jimat" Puskesmas Bantur Jadi Model Pelayanan Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
UPT Puskesmas Bantur sukses menghadirkan program "Petan Jimat" (Pelayanan Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat) sebagai model percontohan penanganan kesehatan mental yang humanis.
UPT Puskesmas Bantur sukses menghadirkan program "Petan Jimat" (Pelayanan Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat) sebagai model percontohan penanganan kesehatan mental yang humanis.

KLIKJATIM.Com | Malang – UPT Puskesmas Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, terus menunjukkan keberhasilan dalam pelayanan kesehatan jiwa melalui inovasi "Petan Jimat" (Pelayanan Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat).

Program yang digagas oleh Kepala UPT Puskesmas Bantur sekaligus inovator, Soebagijono, ini kini menjadi salah satu model pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat percontohan di Kabupaten Malang.

Soebagijono menjelaskan bahwa komitmen program bebas pasung ini sejatinya telah dijalankan sejak tahun 2012. Sebagai penguatan layanan di tingkat tapak, pada tahun 2014 didirikan lima Posyandu Jiwa awal yang tersebar di lima desa di wilayah Kecamatan Bantur.

"Seiring keberhasilan yang konsisten, hingga tahun 2026 ini program tersebut telah berkembang pesat menjadi 49 Posyandu Jiwa yang tersebar luas di 23 kecamatan di Kabupaten Malang," terangnya. 

Pengembangan Posyandu Jiwa ini bertujuan memberikan pendampingan berkelanjutan kepada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang telah menjalani rehabilitasi medis. Melalui wadah ini, mereka didorong agar mampu hidup lebih mandiri, produktif, dan kembali berfungsi secara sosial di tengah masyarakat tanpa stigma.

Konsep "Petan Jimat" sendiri mengedepankan pelayanan kesehatan jiwa yang komprehensif, holistik, dan paripurna. Sasarannya pun menyeluruh, mulai dari masyarakat yang sehat jiwa, kelompok yang berisiko mengalami gangguan mental, hingga pasien yang sedang menjalani proses pemulihan. Pendekatan berbasis masyarakat ini dinilai sangat efektif dalam memperluas jangkauan pelayanan sekaligus mempercepat penanganan dini kesehatan mental.

Soebagijono menuturkan dalam implementasi di lapangan, tenaga kesehatan jiwa tidak hanya memberikan pelayanan keperawatan medis kepada pasien, tetapi juga aktif memberikan edukasi serta penyuluhan berkala kepada para kader kesehatan jiwa setempat.

"Para kader bersama tenaga kesehatan secara rutin melaksanakan home visit (kunjungan rumah) untuk memantau perkembangan klinis pasien, memberikan motivasi kepada pihak keluarga, serta memastikan proses pemulihan berjalan sesuai koridor medis," pungkas Soebagijono. 

Hasil dari program ini menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Banyak pasien yang semula tidak berdaya kini mengalami peningkatan kondisi kesehatan jiwa yang baik, menjadi lebih kooperatif dalam menjalani pengobatan rutin, mampu berinteraksi normal dengan lingkungan, dan semakin produktif dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan masif ini juga didukung kuat oleh keterlibatan aktif pihak keluarga dalam memberikan perhatian dan pendampingan psikologis kepada pasien di rumah. Selain itu, sikap para tenaga kesehatan yang sabar, ramah, dan komunikatif membuat pasien merasa aman serta nyaman, sehingga mereka lebih terbuka dalam menyampaikan keluhan maupun kondisi yang dialaminya.

Soebagijono berharap inovasi pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat seperti "Petan Jimat" ini dapat terus dikembangkan secara replikatif di berbagai daerah lain di Indonesia.

"Mengingat masih tingginya jumlah penyandang gangguan jiwa berat yang belum memperoleh layanan kesehatan secara optimal, kami berharap penguatan program berbasis keterlibatan masyarakat ini mampu mempercepat akses pelayanan merata, meningkatkan kualitas hidup pasien, serta mewujudkan ekosistem masyarakat yang lebih peduli terhadap isu kesehatan jiwa," tutupnya. 

Editor :