KLIKJATIM.Com | Surabaya - Pandemi Covid-19 diharapkan tidak sampai menjadi penghambat terlaksananya program Posyandu. Sebab melalui program ini angka stunting, angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) bisa dikendalikan.
[irp]
Baca juga: Apresiasi Loyalitas, MPM Honda Jatim Siapkan 6 Unit Honda PCX160 Khusus untuk Konsumen Banyuwangi
"Posyandu harus tetap dijalankan. Tentunya dengan menggunakan protokol kesehatan yang sangat ketat. Jadi jangan sampai dilepas, karena ini penting untuk menekan angka stunting, AKI, dan AKB," ujar Ketua TP-PKK Provinsi Jatim, Arumi Bachsin Emil Dardak, Jumat (26/2/2021).
Bulan Februari dan Agustus merupakan bulan timbang. Karena itu soal pencatatan hasil Posyandu, PKK Jatim sudah menyiapkan aplikasi perekam data secara otomatis.
Baca juga: Sinkronisasi Pusat: Khofifah Pastikan WFH ASN Pemprov Jatim Berlanjut, Jadwal Geser ke Hari Jumat
Istri Wakil Gubernur (Wagub) Jatim, Emil Elestianto Dardak itu berharap dengan adanya aplikasi tersebut nantinya akan ada ketepatan dan kecepatan mencatat mulai dari skala mikro di tingkat Posyandu. "Karena sebelumnya pencatatannya manual sehingga ketika data itu sampai ke dinkes atau provinsi akan banyak berubah dengan data realita yang ada di lapangan," urai Arumi Bachsin.
Dia menjelaskan, angka stunting, AKI dan AKB di Jatim memang ada peningkatan. Namun tidak signifikan. Pihaknya sejak awal pandemi juga mengaku, sudah memprediksi akan banyak posyandu dan pelayan kesehatan yang tidak berani buka.
Baca juga: Perkuat Pendidikan Vokasi, MPM Honda Jatim Kini Miliki 17 TUK Astra Honda Berstandar Industri
"Ketika sistem kesehatan itu pada awal-awal pademi masih kaget gitu loh mas. Jadi akhirnya banyak yang tidak menimbangkan balitanya, tidak mengukur, jadi sempat ada beberapa periode di mana kita miss gitu," papar dia.
Namun, lanjut Arumi, seluruh kabupaten/kota baik dari unsur PKK, Dekranasda hingga Pemda kini sudah berkomitmen untuk bersama-sama menurunkan angka stunting di Jatim. "Skala prioritas kita adalah masalah kesehatan dan juga masalah ekonomi. Masalah kesehatan, yang pertama adalah covid. Kedua adalah dampak kesehatan yang disebabkan oleh covid itu sendiri, termasuk stunting dan lain-lain. Kedua masalah ekonomi, bagaimana membebaskan Jawa Timur dari resesi ekonomi," pungkasnya. (nul)
Editor : Redaksi