KLIKJATIM.Com | Surabaya—Alfia Nur Fadillah terpaksa tak masuk sekolah. Uang bulanan sekolahnya nunggak beberapa bulan. Siswa kelas 2 SMA swasta di Surabaya ini tak mampu lagi membayar uang bulanan. Biaya sekolah lainnya juga tak mampu dibayar orang tuanya.
Alfia tinggal di Jalan Bogangin, Kota Surabaya. Anak dari pasangan Yuli Isyanto dan Nurul Chusnah itu tinggal di rumah kontrakan. Ukurannya sekira 3 x 4 meter. Di situ dia tinggal bersama orang tua dan saudaranya berhimpitan.
Baca juga: Gubernur Khofifah Pimpin Penanaman, Penaburan Benih Serta Panen Bersama di Kediri
Alfia terancam putus sekolah jika uang SPP sekolahnya tak dibayar. Sejak kelas 1 hingga kelas 2 SMA SPP bulanannya belum terbayar. Sementara orang tuanya hanya bekerja serabutan.
"Ya, gimana lagi mas, orang tua sudah tidak bisa membayar tunggakan uang sekolah. Jadi saya harus istirahat dulu di rumah. Kalau nggak ada biaya lagi, ya, harus berhenti. Sekolah bagi saya mungkin hanya mimpi termasuk meraih cita-cita yang saya impikan," ujarnya saat ditemui di rumah kontrakannya, Selasa (23/9/2019).
[irp]
[irp]
Perjalanan Alfia melanjutkan sekolahnya cukup memprihatinkan. Selepas lulus SMP dia tak langsung mendapatkan ijazah aslinya. Sekolah SMP tempat dia belajar menahan ijazahnya lantaran belum melunasi biaya operasional sekolah. Praktis, Alfia hanya menggunakan foto copy ijazah untuk mendaftar di salah satu SMA swasta di Surabaya.
"Iya mas untuk masuk SMA kemarin saya hanya menggunakan foto copy ijazah SMP. Ijazah SMP saya belum diambil masih ditahan pihak sekolah karena tidak ada uang untuk mengambilnya," kata Alfia.
Baca juga: Gubernur Khofifah Terima Penghargaan dari Badan Musyawarah Perguruan Swasta
Selama bersekolah, Alfia mengaku rajin dan tak pernah bolos sekolah. Setiap pekerjaan sekolah diselesaikannya. Dia sadar betul pentingnya belajar meski dalam himpitan ekonomi keluarganya yang kurang mampu.
"Cita-cita saya pingin jadi dokter mas, tapi kalau tidak ada biaya ya bagaimana lagi," ujar Alfia sambil menunduk.
Yuli Isyanto, ayah Alfia, sehari-hari bekerja serabutan. Pekerjaan apa saja asalkan halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga ia lakukan. Biasanya untuk menunjang mobilitas keluarga Yuli menggunakan motor buntutnya. Sayangnya, motor itu kini disita petugas polisi setelah terjaring razia. Maklum, motor milik Yuli tak memiliki secarik domen pun, termasuk STNK dan BPKB.
Sementara sang ibu, Nurul Chusnah, setiap hari hanya sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak menjadi kegiatannya sehari-hari.
Baca juga: Gubernur Khofifah Dukung TVRI Sukseskan Siaran Resmi FIFA World Cup 2026 di Jawa Timur
[irp]
"Dulu saya jualan makanan ringan untuk anak-anak sekolah, tapi kini modalnya habis jadi nggak jualan lagi," ujar Nurul.
Peristiwa yang menimpa Alfia ini hanya satu dari sebagian siswa SMA/SMK di Jatim yang tidak bisa menikmati bangku sekolah dengan nyaman dan tenang. Meski pemerintah Provinsi Jatim di bawah komando Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa telah memberikan beberapa fasilitas untuk meringankan beban biaya sekolah, termasuk yang baru saja di kucurkan, yakni dana Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) yang merupakan dana program Pendidikan Gratis Berkualitas (TisTas) untuk SMA-SMK di Jatim. (tri/mkr)
Editor : Redaksi