KLIKJATIM.Com | Lumajang - Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebutkan terkait dampak erupsi Gunung Semeru, saat ini yang diperlukan adalah sistem peringatan dini yang benar dan cepat bagi masyarakat di kawasan lereng Semeru.
[irp]
Baca juga: Ekonomi Jatim Tumbuh Hampir 6 Persen dan Tertinggi Se-Jawa
Menurut Khofifah, dibutuhkan lebih banyak pihak yang mampu menyebarluaskan peringatan dini erupsi. Namun dengan catatan sumber informasi harus satu pintu agar tidak terjadi dispute. Dalam hal ini, ia meminta radio komunitas dan ORARI (Organisasi Amatir Radio Indonesia) berperan aktif dalam penyebaran informasi terkait erupsi Gunung Semeru.
Selain itu, diperlukan juga untuk memperbanyak panduan jalur evakuasi bencana, hingga rencana mengeruk sedimentasi material di jalur aliran lahar erupsi Gunung Semeru.
Dalam kesempatan ini, setidaknya ada dua lokasi yang dikunjungi Khofifah bersama Kepala BNPB Doni Monardo untuk menginventarisir permasalahan dampak erupsi. Lokasi pertama ialah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Dusun Kajar, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang.
Di pos pemantauan itu, Khofifah maupun Doni Monardo berupaya menginventarisir dampak bencana yang harus diantisipasi ke depan, hingga kondisi terkini aktivitas vulkanik Gunung Semeru.
Baca juga: Pemprov Jawa Timur Borong Tiga Penghargaan UB Halal Metric Award 2026, Gubernur Khofifah
"Kedatangan kami ke sini adalah kami ingin update dari seluruh proses mulai terjadinya erupsi hingga mitigasi yang harus kita lakukan terkait upaya perlindungan masyarakat di area kondisi rawan bencana (KRB), proses evakuasinya, dan detail mitigasi dan dampak erupsi Gunung Semeru dengan mengunjungi pos pantau ini. Semua harus termitigasi secara detail terutama yang terkait dengan potensi kebencanaannya sehingga dapat diantisipasi secara komprehensif baik titik kumpul dan pengungsian, jalur evakuasi, saluran lahar dan sebagainya sehingga masyarakat terlindungi," jelas Khofifah.
Titik kedua yang juga ditinjau Khofifah adalah kawasan jalur aliran lahar erupsi Gunung Semeru di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang Kecamatan Pronojiwo. Di sana, tampak sedimentasi material luapan erupsi Gunung Semeru sudah sangat menebal. Bahkan timbunan material di jalur aliran lahar tersebut sudah mencapai lebih 15 meter dari kondisi sebelum erupsi.
Padahal saat ini, potensi erupsi masih belum berhenti dan guguran awan panas masih terus berlangsung. Karena sudah terpetakan, maka dibutuhkan adanya pengerukan di lokasi tersebut agar jalur ini tetap bisa menjadi jalur aman untuk aliran lahar. Dan tidak sampai meluber ke perkampungan rumah warga.
Baca juga: Gubernur Khofifah Luncurkan 40 Sekolah Berintegritas
"Untuk jalur aliran lahar di Dusun Curah Kobokan ini ketebalan sedimentasi sudah mencapai lebih 15 meter, jadi harus dikeruk. Agar jika ada material dari erupsi gunung, tidak ada yang meluber ke perkampungan warga. Bapak Kepala BNPB tadi langsung koordinasi dengan Menteri PUPR dan tim TNI akan siap mendukung proses pengerukan. Tetapi harus sangat waspada mengingat sedimentasi material gunung Semeru. Pengerukan ini penting supaya kanal saluran lahar tetap bisa mengalir," ujar Khofifah, Kamis (3/12/2020).
Sementara itu, Doni Monardo mengatakan, pengerukan dibutuhkan untuk mengurangi volume lahar panas di kawasan Curah Kobokan. "Karena kalau material tidak segera dikurangi maka jika terjadi hujan lebat di hulu akan bisa terbawa ke pemukiman warga dan ini yang harus kita hindari," tandasnya. (bro)
Editor : Redaksi