klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Damkar Kota Malang Catat 66 Kebakaran Terjadi Sepanjang September

avatar Tsabit Mantovani
  • URL berhasil dicopy
Petugas Damkar Kota Malang saat melakukan pemadaman
Petugas Damkar Kota Malang saat melakukan pemadaman

KLIKJATIM.Com | Malang - Kasus kebakaran di Kota Malang masih menunjukkan tren tinggi selama musim kemarau. UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang mencatat 66 kasus kebakaran sepanjang September 2026, dengan 45 kasus di antaranya dipicu kebakaran lahan dan tumpukan sampah.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang, Pandu Rizki Darmawan, mengatakan, peningkatan kasus kebakaran terjadi dalam tiga bulan terakhir, yakni Agustus, September, hingga Oktober 2026. Kondisi cuaca panas dan kering yang disertai angin mempercepat penyebaran api, terutama di kawasan daerah aliran sungai (DAS).

“Untuk bulan September saja ada 66 kasus kebakaran. 45 diantaranya terjadi akibat kebakaran lahan dan tumpukan sampah,” ujar Pandu dalam program Halo RRI, Jumat (16/10/2026).

Baca juga:Genre Malang Soroti Edukasi Seks untuk Remaja Belum Spesifik
Sementara di bulan berjalan saat ini Oktober, Pandu menjelaskan, hingga 14 Oktober 2026, Damkar Kota Malang telah menangani 25 kasus kebakaran. Angka tersebut menunjukkan tingginya kejadian kebakaran yang belum memperlihatkan tren penurunan.

Yang terbaru adalah kebakaran di kawasan Bumiayu dan sekitar Jembatan Ranu Grati pada Kamis, 15 Oktober kemarin, yang menurut Pandu, dipicu pembakaran sampah oleh masyarakat yang kemudian ditinggalkan tanpa pengawasan.

“Proses bakar-bakar sampah di barongan sungai, kemudian ditinggalkan begitu saja. Sehingga dengan kondisi kemarau kering kemudian angin kencang seperti ini, dalam hitungan menit itu sudah menjalar ke objek yang lain,” katanya.

Baca juga:Tiga Pekan, 38 Kebakaran Terjadi di Kota Malang
Ia mengingatkan, pembakaran sampah di kawasan terbuka, terutama di sekitar permukiman dan bantaran sungai, berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas. Material kering seperti tumpukan kayu, daun, dan barang bekas dapat dengan mudah tersulut dan mempercepat penjalaran api.

Menurut Pandu, kebakaran di bantaran sungai juga memiliki tingkat kesulitan tersendiri bagi petugas pemadam. Api yang membakar tumpukan sampah terkadang tidak terlihat dari permukaan karena merambat di bagian dalam material atau di bawah permukaan tanah.

“Kalau kebakaran di barongan sungai ini rata-rata menimpa objeknya adalah tumpukan sampah. Yang di mana di situ apinya tidak nampak, namun apinya ada di kedalaman, mungkin saja satu sampai dua meter di bawah permukaan tanah,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang dan pasokan air lebih banyak. Selain itu, petugas menghadapi risiko terperosok atau tergelincir ke aliran sungai ketika bekerja di medan yang curam.

Pandu mengimbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan dan segera melaporkan kejadian kebakaran kepada Damkar Kota Malang. Pencegahan sejak awal dinilai penting untuk menekan risiko kerugian harta benda maupun korban jiwa.

Editor :