KLIKJATIM.Com | Surabaya – Pemerintah lintas sektor mulai memperkuat barisan untuk menghadapi tantangan iklim di tahun 2026. Strategi besar guna mengantisipasi bencana musim kemarau dan memperkuat penanganan dampak hidrometeorologi mulai disusun demi menjaga stabilitas swasembada pangan nasional.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, hadir langsung dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau Jawa Timur Tahun 2026 yang digelar di Dyandra Convention Center, Selasa (7/4/2026).
Forum strategis ini bertujuan menyatukan langkah antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah dalam menghadapi ancaman kekeringan yang diprediksi akan berdampak signifikan.
Dalam rakor tersebut terungkap bahwa fenomena El Nino diperkirakan akan memicu penurunan curah hujan antara 20 hingga 40 persen. Puncak kekeringan sendiri diprediksi terjadi pada periode Agustus hingga September 2026. Kondisi ekstrem ini menuntut adanya langkah mitigasi yang terukur dan terintegrasi sejak dini.
Pemerintah telah merumuskan sejumlah strategi utama, di antaranya melakukan pemetaan wilayah dengan identifikasi titik rawan kekeringan dan penguatan sistem peringatan dini, dan optimalisasi pengelolaan sumber daya air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, sumur air, serta masifnya penggunaan sistem pompanisasi.
Selain itu Percepatan masa tanam guna memanfaatkan sisa curah hujan serta penggunaan varietas benih yang tahan terhadap kekeringan, serta dukungan Alsintan untuk peningkatan ketersediaan alat dan mesin pertanian untuk efisiensi produksi di lahan terdampak.
Di sisi penanggulangan bencana, pemerintah memperkuat sinergi antarlembaga untuk kesiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Selain itu, dukungan sarana operasi udara juga disiapkan untuk mencegah terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kerap menyertai musim kemarau panjang.
Bupati Lamongan yang akrab disapa Pak Yes menegaskan bahwa strategi ini akan segera diimplementasikan di Kabupaten Lamongan, mengingat posisi daerah tersebut sebagai salah satu lumbung pangan nasional yang vital.
“Upaya ini tidak hanya untuk mitigasi bencana, tetapi juga memastikan produksi pertanian tetap optimal sehingga swasembada pangan dapat terjaga secara berkelanjutan,” tutur Pak Yes.
Melalui koordinasi yang solid ini, diharapkan seluruh daerah, khususnya Lamongan, memiliki kesiapsiagaan tinggi dalam menghadapi kemarau 2026.
Langkah ini menjadi kunci dalam melindungi masyarakat dari risiko bencana hidrometeorologi sekaligus memastikan ketersediaan pangan tetap aman di tengah perubahan iklim global.
Editor : Fatih