KLIKJATIM.Com | Gresik — Pegiat lingkungan Ecoton mengedukasi masyarakat terkait pengurangan pemakaian plastik sekali pakai, yang kerap mengotori sungai-sungai di Indonesia. Kali ini dengan menggelar pameran museum plastik 3F (Fish Fersus Flastik) yang dipungut team ekspedisi sungai nusantara dalam operasi pohon plastik. Ecoton membangun 4 instalasi plastik.
[irp]
“Kondisi pencemaran sampah plastik di Sungai-sungai Jawa Timur terutama di Perkotaan seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Gresik sudah tidak bisa ditolerir lagi. Masyarakat seenaknya membuang sampah ke aliran sungai Brantas, ada seribu lebih lokasi timbunan sampah di sepanjang Brantas, 55 persen berupa sampah plastik sekali pakai yang akan terpecah menjadi mikroplastik,” ungkap koordinator Pameran Museum Plastik 3F, Firly Mas’ulatul Janah.
Pihaknya mengaku prihatin terkait rendahnya kesadaran warga yang tetap buang sampah plastik ke sungai. Selain itu, pemerintah juga disebut enggan menyediakan sarana pengolahan sampah. Nah, untuk menyikapi kondisi tersebut Ecoton memberikan edukasi tentang bahaya sampah plastik sekali pakai melalui pameran instalasi sampah plastik.
Lebih lanjut, Sekretaris Ecoton itu menyatakan untuk membangun lorong instalasi dibutuhkan 3.544 botol plastik sekali pakai yang dipungut dari Kali Brantas di Jombang, Kali Wonokromo di Surabaya, Kali Marmoyo di Mojokerto, Kali Pelayaran di Sidoarjo dan sampah plastik dari kegiatan pembersihan pohon-pohon Kali Brantas yang tersangkut sampah plastik.
Dikatakan, dalam pameran ini pengunjung diajak menyusuri kehidupan bawah air yang menunjukkan penderitaan ikan-ikan yang hidup di dasar sungai bersanding dengan sampah plastik. “Dalam pameran ini di bangun 4 boot utama berupa lorong botol plastik sepanjang 12 meter, menara tas kresek setinggi 6 meter, pohon plastik dan jaring popok yang berupa jaring ikan sepanjang 8 meter yang dipenuhi sampah popok dan gelas plastik,” tambah Firly.
Temuan Ecoton ini menunjukkan jumlah mikroplastik lebih banyak dibandingkan plankton. Prediksi United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2050 jumlah plastik akan lebih banyak dibandingkan ikan. Dan menjadikan Indonesia darurat sampah plastik.
“Setiap tahun Indonesia menghasilkan 8 juta ton sampah plastik dan hanya 3 juta ton yang terkelola, sebagian besar yaitu 5 juta ton tak terurus. Sebagain dibakar, ditimbun dan dibuang ke sungai, ada sekitar 2,6 juta ton digelontorkan ke sungai pada akhirnya berakhir ke laut,” beber firly,
Menurut alumni antropologi Universitas Airlangga ini menjelaskan bahwa Indonesia adalah kontributor sampah plastik terbesar kedua setelah China. "Setiap tahun kita (Indonesia) menyumbang 3,2 juta ton sampah plastik ke lautan, terbanyak kedua di level global, China menyumbang 6,4 juta ton sampah plastik ke lautan,” tambah Firly.
“Saatnya #stopmakanplastik dengan mengurangi pemakaian plastik sekali pakai (botol air minum mineral, sachet, tas kresek, sedotan, popok dan styrofoam),” pungkas Firly. (nul)
Editor : Redaksi