KEE Ujungpangkah Diusulkan Jadi Situs Ramsar

Reporter : Abdul Aziz Qomar - klikjatim.com

Seorang pengunjung KEE Ujungpangkah

KLIKJATIM.Com | Gresik — Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Ujungpangkah ternyata punya potensi alam tersembunyi. Selain terdapat belasan jenis mangrove, lokasi tersebut juga menjadi lokasi migrasinya puluhan jenis burung internasional.

BACA JUGA :  Jual Motor di Sosial Media, Lalu COD, Tapi Sayang Motor Dibawa Kabur

Kawasan seluas 1.554 hektar yang berada di Desa Pangkahwetan, Desa Pangkahkulon dan Desa Banyuurip tersebut terus dikembangkan pemerintah. Salah satunya dengan mengusulkan kawasan tersebut menjadi Ramsar Site (situs ramsar).

“Di sini menjadi jujukan migrasi dari puluhan burung laut. Mayoritas burung Pelikan dari Benua Australia,” tutur Direktur Bina Kawasan Ekosistem Esensial Ditjen KLHK, Asep Sugiharta ditengah peringatan World Wetlands Day (Hari Lahan Basah Sedunia) Rabu ( 02/06/2021).

Ia menyebut, KEE Ujungpangkah ke depan akan dikembangkan menjadi destinasi berbagai sektor. Semisal edukasi, wisata yang bisa mendongkrak perekonomian masyarakat. Pengelolaannya pun akan terus dikembangkan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik M Najikh mengatakan kehadiran KEE Ujungpangkah ini mengeliminir polusi Kota Pudak sebagai Kota Industri. Meski aktivitas pabrik yang menghasilkan karbondioksida tinggi, KEE ini menjadi penyeimbang.

“Untuk itu silakan investasi sebesar-sebarnya di Gresik. Karena kehadiran KEE Ujungpangkah menghasilkan oksigen sehat sebagai penyeimbang karbondioksida pabrik,” katanya.

Berdasarkan catatan, ada sekitar 72 jenis burung laut yang memenuhi lokasi tersebut. 50 di antaranya adalah burung yang melakukan migrasi dari Benua Australia. “Migrasi burung laut biasanya terjadi di bulan Juni dan Juli. Ini yang terlihat adalah burung jenis Dara Laut,” ungkap Polhut BKSDA Jatim Adnan Wibowo.

Dijelaskan, jika air pasang burung-burung migrasi itu bersembunyi di balik pepohonan mangrove. Jika air sudah surut, biasanya akan keluar secara bergerombol dan mencari makanan ikan-ikan kecil.

Selain jadi jujukan migrasi burung laut, KEE Ujungpangkah juga memiliki 19 jenis pohon mangrove. 17 di antaranya jenis mangrove jati dan dua lainnya jenis asosiasi. “Satu jenis mangrove asosiasi yakni jenis Nipa tidak ada di tempat lain. Hanya di sini,” tukasnya.

Hingga saat ini, lebih dari 100 ribu pohon mangrove yang ditanam di lokasi tersebut. Sejak 2016 dengan dukungan perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Santri. Jumlah tersebut sangat mungkin bertambah karena pengelola masih terus menggenjot penanaman.

Situs Ramsar sendiri merupakan situs lahan basah yang dirancang untuk kepentingan internasional di bawah Konvensi Ramsar. Konvensi Lahan Basah, yang dikenal sebagai Konvensi Ramsar, adalah perjanjian lingkungan antar pemerintah yang didirikan pada tahun 1971 oleh UNESCO, yang mulai berlaku pada tahun 1975. (bro)