KLIKJATIM.Com I Gresik — Masa pancaroba atau pergantian musim kemarau ke musim penghujan menjadi waktu yang menggembirakan warga sepanjang bantaran Bengawan Solo. Berbagai jenis ikan muncul kepermukaan dan dengan mudah ditangkap bahkan dengan tangan. Sebagian dari mereka meneguk untung dengan menjual hasil tangkap ikan tersebut. Seolah tak terpengaruh dengan kondisi Bengawan Solo yang telah tercemar mikroplastik.
[irp]
Di Gresik, masa seperti ini disebut sebagai komboan. Munculnya ikan lantaran air di sungai Bengawan Solo mengalami pergantian rasa dari asin saat musim kemarau, menjadi tawar pada musim hujan. Warga berbondong-bondong mencari ikan di sungai ini, bahkan tanpa alat pun mereka mampu mendapatkan ikan dalam jumlah banyak.
Seperti di desa-desa yang ada di Kecamatan Dukun; Desa Tiremenggal, Desa Semampir, Desa Baron, dan desa lain yang memang dekat dengan sungai Bengawan Solo. Komboan telah berlangsung sejak kemarin malam, Senin (02/11/2020).
Hanya saja saat ini hasil tangkapan ikan dari komboan patut diwaspadai. Ini karena kualitas air Bengawan Solo yang telah tercemar mikroplastik . Ini didasarkan hasil penelitian kelompok Studi Banyu Himpunan Mahasiswa Biologi (Himbio) Universitas Airlangga bersama Ecological Observation and Weatlands Conservation (ECOTON) Foundation di Bengawan Solo pada tanggal 1-24 Oktober 2020.
Penelitian dengan mengambil sempel mikroplastik dari wilayah Bengawan Solo. Diantaranya segmen tengah yang terdiri dari Sragen (Desa KebakKramat), Ngawi (Jembatan Pitu), Bojonegoro (Bendungan Gerak/Trucuk dan Kedung Bendo) dan Lamongan (Laren, Karang geneg, Karang Binangun, Sedayu Lawas/Muara1 dan Terminal Brondong).
Koordinator Penelitian Mikroplastik Kelompok Banyu Himbio Unair, Ramdani Jaka Samudra mengatakan hasil dari penelitian memang menunjukkan adanya pencemaran yang berasal dari industri tekstil dan industri etanol yang berada di Jawa Tengah. Ini tentu saja berdampak di wilayah Jawa Timur.
“Kami ingin menginventarisasi kandungan mikroplastik di bengawan Solo karena selama ini sungai terpanjang di pulau Jawa ini mengalami pencemaran dari industri tekstil dan industri etanol yang ada di Jawa Tengah, sedangkan dampaknya dirasakan di Jawa Timur,” ujar Ramadani pada Minggu (25/10/2020). Lalu.
Mikroplastik sendiri tentu tidak baik jika sampai masuk kedalam tubuh. Apalagi dalam kadar yang cukup banyak. Antara lain bahaya mikroplastik bagi tubuh adalah gangguan sistem saraf, hormon dan kekebalan tubuh, hingga dapat meningkatkan resiko kanker.
Namun demikian fenomena Komboan ini berlangsung sejak lama dan hampir setiap tahun. Sudah menjadi kehendak Tuhan YME namun. Tidak ada salahnya mengkonsumsi ikan tersebut tapi dengan catatan harus benar-benar selektif demi menjaga kesehatan tubuh.
Editor : Abdul Aziz Qomar