Musim Garam Sumenep Belum Usai, Petani Masih Kejar Produksi

Reporter : Hendra
MUSIM PANEN : Petani garam Sumenep saat beraktivitas di tambak garam. (doc. M.Hendra.E/Klikjatim.Com)

KLIKJATIM.Com | Sumenep - Petani garam di Kabupaten Sumenep, Madura, belum buru-buru meninggalkan tambaknya. Saat sejumlah wilayah mulai bersiap menghadapi perubahan cuaca, aktivitas produksi garam justru masih berlangsung di sejumlah sentra.


Kondisi itu membuat musim produksi garam rakyat tahun ini berpeluang lebih panjang. Dinas Perikanan Sumenep mencatat produksi sementara hingga Agustus 2026 sudah mencapai 25.285 ton.

Baca juga: Harga Garam di Sampang Anjlok Hingga Rp30 Ribu per Karung, Petani Menjerit


Analis Akuakultur Ahli Muda Dinas Perikanan Sumenep, Abdullah Haqiqi Hariyanto, menyebut kesempatan produksi masih terbuka selama cuaca belum memasuki fase penghujan.


“Pada September bahkan hingga mungkin pekan kedua Oktober 2026, petani garam masih terus memproduksi garam,” ujar Abdullah, Senin (5/10).


Perpanjangan waktu produksi itu menjadi peluang bagi Sumenep untuk mengejar capaian musim sebelumnya. Produksi garam pada tahun lalu tercatat berada di kisaran 36 ribu ton.


Namun, angka produksi tahun ini belum bisa dibandingkan secara final. Sebab, data dari lapangan masih terus dikumpulkan dan belum seluruhnya masuk dalam rekap Dinas Perikanan.

Baca juga: Petani Merasa Dirugikan, PT Garam Bersikukuh Tambak 105 Aset Perusahaan


“Data tersebut masih belum keseluruhan, karena ada beberapa wilayah yang masih belum selesai direkap oleh penyuluh dan belum dikoordinasikan lagi dengan kami,” katanya.


Artinya, angka 25.285 ton masih merupakan catatan sementara. Tambahan produksi dari September hingga penghujung musim bisa membuat total produksi berubah cukup signifikan.


Produksi garam rakyat tersebut berasal dari sejumlah kawasan, mulai dari daratan Sumenep hingga wilayah kepulauan. 

Baca juga: Groundbreaking Hilirisasi Garam Fase I dan Pembangunan Pabrik Garam Olahan Segoromadu Resmi Dimulai


Di antaranya Gapura, Kalianget, Saronggi, Pragaan, Dungkek, Giligenting, Talango, Raas, Arjasa, Kangayan, dan Sapeken.


Di tengah produksi yang masih berjalan, garam di tingkat petani kini berada pada kisaran Rp1.100 sampai Rp1.250 per kilogram. Harga tersebut menjadi salah satu penentu nilai yang akan diterima petani ketika seluruh hasil produksi musim ini selesai dihimpun.


Dengan waktu produksi yang masih tersisa, Sumenep kini tinggal menunggu seberapa besar tambahan garam yang dapat dikumpulkan sebelum hujan benar-benar menghentikan aktivitas petambak.

Editor : Wahyudi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru