Pemkab Jember Benahi Sarana 258 Sekolah, Akademisi Tekankan Pentingnya Imbangan Kualitas SDM

Reporter : Muhammad Hatta
Pemkab Jember mengucurkan dana sebesar Rp187,38 miliar untuk merevitalisasi 258 lembaga pendidikan

KLIKJATIM.Com | Jember — Pembenahan fasilitas fisik sekolah melalui perbaikan dan penyediaan ruang belajar yang nyaman terbukti dapat membantu siswa lebih fokus dalam mengikuti proses pembelajaran.

Kendati demikian, kondisi fisik gedung sekolah bukanlah satu-satunya penentu prestasi akademik siswa. Kualitas tenaga pendidik, motivasi intrinsik, kesehatan dasar, dukungan keluarga, hingga kemampuan siswa dalam mengontrol diri turut memegang peranan krusial.

Baca juga: Wagub Emil Paparkan Ketangguhan Bencana Berbasis Karakter Wilayah Jawa Timur di Forum Internasional

Hal tersebut ditegaskan oleh akademisi dari Universitas Muhammadiyah Jember dan Universitas Jember saat menanggapi pentingnya keberlanjutan program perbaikan sarana pendidikan di Kabupaten Jember.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, Januariya Laili, menjelaskan bahwa berbagai studi ilmiah memang menunjukkan adanya keterkaitan erat antara kenyamanan lingkungan belajar dan prestasi siswa.

Namun, hubungan tersebut bersifat korelasional, sehingga kenyamanan fisik tidak bisa serta-merta dianggap sebagai faktor tunggal penentu keberhasilan akademik.

Menurut Januariya, pengaruh lingkungan belajar yang kondusif bekerja melalui peningkatan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) serta tingkat keterlibatan (engagement) siswa dalam pembelajaran.

“Siswa yang merasa aman dan diterima cenderung lebih senang, tidak terlalu cemas, dan lebih berani bertanya atau mencoba dalam pembelajaran,” kata Januariya saat dikonfirmasi oleh sejumlah wartawan di Jember, Kamis (1/10/2026).

Secara fisik, faktor-faktor seperti pencahayaan yang memadai, sirkulasi udara yang baik, tingkat kebisingan yang terkontrol, serta tata letak ruangan yang rapi menjadi fondasi utama penunjang konsentrasi.

Namun, Januariya menggarisbawahi bahwa kenyamanan hakiki mencakup dimensi psikologis, di mana anak merasa aman untuk menyampaikan gagasan, bertanya, hingga tidak takut berbuat salah dalam proses belajar.

“Tempat belajar yang nyaman bukan yang paling mewah, tetapi yang membuat anak merasa aman, dihargai, dan mau terlibat,” tambahnya.

Nada serupa disampaikan Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember, Aris Singgih. Menurutnya, kondisi kelas yang rusak, panas, pengap, atau bocor dapat memecah fokus siswa karena mereka terpaksa berhadapan dengan ketidaknyamanan lingkungan.

Walau begitu, Aris mengingatkan bahwa kemegahan gedung tidak secara otomatis mencetak prestasi jika tidak dibarengi dengan kualitas proses belajar-mengajar yang baik.

“Tempat belajar yang nyaman tidak hanya dimaknai sebagai gedung yang megah atau fasilitas yang lengkap. Kenyamanan juga mencakup aspek psikologis, seperti adanya rasa aman, hubungan yang positif antara guru dan murid, serta suasana belajar yang menghargai setiap individu,” jelas Aris.

Baca juga: Nobar Film G30S/PKI di Jember, Warga Libatkan Pelajar hingga Mahasiswa untuk Belajar Sejarah

Aris menekankan pentingnya kompetensi dan empati guru dalam mengelola kelas. Fasilitas sekolah yang canggih sekalipun tidak akan memberikan hasil optimal jika tenaga pendidiknya kurang memahami kebutuhan dasar peserta didik.

“Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun suasana belajar yang menyenangkan, memahami karakter peserta didik, serta mampu menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” tegasnya.

Di Kabupaten Jember sendiri, upaya menciptakan lingkungan belajar yang layak tengah gencar dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember. Melalui program revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan, Pemkab Jember menyasar 258 lembaga sekolah yang telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Program yang menjangkau sektor pendidikan secara inklusif ini melibatkan 121 sekolah negeri dan 137 sekolah swasta di Jember, dengan total anggaran yang disalurkan mencapai Rp187,38 miliar. Pembenahan fisik difokuskan pada perbaikan ruang kelas, sanitasi, serta fasilitas penunjang lainnya.

Menanggapi program tersebut, Januariya menilai revitalisasi gedung merupakan langkah awal yang sangat berharga sebagai fondasi lingkungan sekolah yang aman. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah dan pengelola sekolah tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.

“Lingkungan yang nyaman bukan hanya sekadar kondisi fisik, jadi jangan berhenti hanya di gedung. Kita juga perlu konsen pada terciptanya rasa aman anak, relasi yang hangat dengan guru, dan keterlibatan siswa,” imbau Januariya.

Ia mendorong agar pembangunan fisik berjalan seiring dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu, pemerataan kondisi sekolah antara kawasan perkotaan dan perdesaan juga harus diperhatikan.

Baca juga: Polisi Periksa Pelapor Kasus Dugaan Penistaan Agama terhadap Kiai Padepokan di Jember

Di sisi lain, Aris menyarankan pentingnya pendataan kondisi sekolah yang transparan dan akurat. Data tersebut mencakup pemetaan bangunan yang rawan, keterbatasan air bersih, hingga kondisi sanitasi toilet agar intervensi program revitalisasi tepat sasaran.

Isu kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru non-ASN, juga turut disoroti. Menurut Januariya, kondisi guru yang mengalami kelelahan (burnout) atau beban finansial dapat menjadi hambatan dalam menghadirkan kehangatan serta interaksi positif di dalam kelas.

Selain itu, tantangan mendidik Generasi Alpha yang tumbuh erat dengan dunia digital dan konten visual interaktif menuntut guru untuk adaptable. Strategi pembelajaran kini perlu memadukan metode visual, diskusi interaktif, praktik langsung, serta pemanfaatan teknologi secara seimbang.

Guna mengatasi gangguan ketergantungan digital (digital distraction), latihan fokus dan penguatan kontrol diri siswa perlu dibina bersama orang tua di rumah melalui batasan penggunaan gawai yang jelas.

“Prestasi itu hasil dari banyak faktor yang saling menguatkan, dan tempat belajar hanya salah satunya,” tutup Januariya.

Aris menambahkan bahwa muara dari pendidikan abad ini tidak boleh sekadar diukur dari capaian nilai angka pada lembar ujian. Pengembangan kemampuan komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah (problem solving), pembentukan karakter, serta daya adaptasi siswa jauh lebih krusial untuk menghadapi masa depan.

Editor : Fatih

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru