KLIKJATIM.Com | Gresik — Lembar-lembar kain bergantung di sepanjang jalan Kampung Kemasan. Di atasnya tertulis potongan ingatan warga tentang Gresik: cerita tentang kampung, makanan, keluarga, kebiasaan, hingga hal-hal sederhana yang selama ini hidup dalam keseharian.
Di antara bangunan-bangunan tua yang telah berdiri selama ratusan tahun, kain-kain tersebut menjadi semacam arsip terbuka. Pengunjung berjalan menyusuri kampung, membaca cerita, memasuki bangunan lama yang kini dihidupkan kembali sebagai ruang pamer, sekaligus berinteraksi dengan warga dan aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.
Baca juga: Dapat Hadiah Umrah Gratis, Tangis Haru Warga Yosowilangun Pecah di Jalan Sehat HUT ke-81 RI
Pengalaman itu menjadi salah satu cara Festival Menjadi Gresik mengajak publik membaca kembali sebuah kota.
Selama ini, sejarah kerap ditemukan dalam arsip, bangunan bersejarah, catatan perdagangan, kisah kerajaan, tokoh-tokoh besar, maupun peristiwa politik. Semua itu penting untuk memahami perjalanan sebuah daerah. Namun, ada bagian lain dari sejarah yang tidak selalu tersimpan dalam dokumen resmi: sejarah yang hidup dalam ingatan warga.
Ia hadir dalam makanan yang dimasak secara turun-temurun, pakaian yang dikenakan sehari-hari, tradisi kampung, cerita keluarga, bahasa, kebiasaan, serta pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Gagasan tersebut menjadi titik berangkat Festival Menjadi Gresik, program yang digagas Yayasan Gang Sebelah dan berlangsung pada 15–30 Agustus 2026 di Kampung Kemasan, Gresik.
Festival ini menawarkan cara lain untuk membaca kota dengan menempatkan pengalaman, ingatan, dan pengetahuan warga sebagai bagian penting dari sumber kebudayaan.
“Menjadi Gresik berangkat dari kegelisahan bahwa sejarah kota sering kali diceritakan melalui narasi besar, sementara pengetahuan yang hidup dalam keseharian warga justru luput dicatat. Padahal, dari dapur, pakaian, makanan, kampung, hingga cerita yang diwariskan antargenerasi, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat membentuk identitas kotanya,” ujar Direktur Festival Menjadi Gresik Hidayatun Nikmah.
Membaca Kota dari Hal-Hal Terdekat
Menjadi Gresik tidak berangkat dari keinginan menemukan satu definisi tunggal mengenai Gresik. Festival ini justru membuka berbagai pintu untuk memahami kota melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dapur, pasar, kampung, makanan, pakaian, ruang bersejarah, hingga ingatan personal digunakan sebagai medium untuk melihat hubungan antara sejarah, identitas, dan kehidupan sosial.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah gastronomi. Makanan tidak hanya dipandang sebagai hidangan atau produk kuliner, tetapi sebagai pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan, ekonomi, keluarga, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat.
Melalui Seri Gastronomi, Yayasan Gang Sebelah melakukan riset dan dokumentasi terhadap sejumlah makanan khas Gresik, di antaranya bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo.
Riset tidak berhenti pada pencatatan resep. Penelusuran mencakup bahan baku, teknik pengolahan, cara penyajian, pelaku yang mempertahankan tradisi, hingga cerita dan ingatan yang mengikuti perjalanan makanan tersebut.
Hasil riset kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk, termasuk film dokumenter yang mempertemukan pengetahuan para pelaku dengan masyarakat yang selama ini mungkin mengenal makanan tersebut sebatas bagian dari keseharian.
Dengan pendekatan itu, makanan dapat dibaca lebih jauh. Ia menjadi jejak hubungan manusia dengan lingkungan, penanda perubahan ekonomi, sekaligus medium yang menyimpan ingatan keluarga dan masyarakat.
Cara serupa digunakan untuk membaca pakaian. Sarung, kebaya, songkok, dan berbagai bentuk busana masyarakat Gresik tidak sekadar diperlakukan sebagai benda atau atribut identitas. Pakaian dibaca melalui hubungan antara tubuh, kebiasaan, ruang sosial, serta perubahan cara masyarakat membangun dan menampilkan identitasnya.
Direktur Program Festival Menjadi Gresik, Irfan Akbar, mengatakan festival tersebut ditujukan untuk memperkaya narasi mengenai ke-Gresik-an.
“Kami tidak sedang mencari satu definisi tentang Gresik. Justru kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri. Festival ini adalah salah satu cara untuk mempertemukan kembali ingatan yang tersebar itu, mendokumentasikannya, lalu membawanya kembali kepada publik,” ujarnya.
Kampung sebagai Arsip yang Hidup
Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, menjadi salah satu ruang penting dalam penyelenggaraan festival. Kawasan bersejarah itu tidak hanya digunakan sebagai latar kegiatan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
Jalan kampung, bangunan lama, rumah warga, hingga ruang-ruang yang sebelumnya kosong diaktivasi untuk berbagai kegiatan.
Sejumlah bangunan tua di sepanjang Kampung Kemasan digunakan sebagai ruang pamer dan presentasi. Jalan kampung menjadi ruang untuk berjalan sekaligus membaca. Warga juga terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk membuka usaha mikro dan kuliner selama festival berlangsung.
Baca juga: BPJS Kesehatan Jelaskan Layanan yang Tidak Masuk Jaminan JKN
Dengan cara tersebut, ruang bersejarah tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku dan hanya dapat dilihat dari kejauhan. Ruang tersebut kembali digunakan dan menjadi titik pertemuan antara masa lalu dan kehidupan hari ini.
Pengunjung dapat melihat jejak arsitektur dan sejarah kawasan, sekaligus berhadapan dengan cerita baru, hasil riset, makanan, aktivitas warga, dan berbagai ekspresi kebudayaan yang terus berlangsung.
Dalam konteks itu, kampung dan gang bukan sekadar lokasi penyelenggaraan festival. Keduanya menjadi arsip yang masih hidup.
Belajar Membaca Kota dari Warga
Festival Menjadi Gresik juga menjadi bagian dari proses yang lebih panjang melalui Besali Studi Kultural, sebuah ruang belajar kolektif yang mendorong riset berbasis pengalaman, ingatan kolektif, tradisi lisan, dan praktik kehidupan warga.
Melalui panggilan terbuka dan proses kurasi, delapan kelompok dari berbagai latar belakang terpilih untuk melakukan pengamatan, wawancara, dokumentasi, pengarsipan, serta pengembangan pengetahuan kebudayaan.
Kelompok tersebut berasal dari sejumlah komunitas dan institusi, antara lain DKV Universitas Internasional Semen Indonesia, CYG Team, Kronika SMAN 1 Gresik, Power Art SMAN 1 Gresik, Gresik Book Party, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Sunan Gresik, dan Niti Narasi.
Dalam prosesnya, mereka mendapatkan fasilitasi kelas, pendampingan, hingga kesempatan mempresentasikan hasil riset kepada publik.
Objek yang diteliti beragam, mulai dari pakaian adat, percampuran budaya masyarakat Tionghoa dan Arab, arsitektur Kampung Kemasan, Pasar Pahing, songkok dan tas besali, gulat okol, aksara Gresik, hingga laban di kawasan Pangkah.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya berada dalam bentuk kesenian yang telah dikenal luas. Kebudayaan juga hidup dalam benda sehari-hari, ruang, bahasa, tubuh, permainan, pekerjaan, dan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat.
Bagi Yayasan Gang Sebelah, proses ini penting karena banyak pengetahuan lokal masih bertahan secara lisan dan bergantung pada orang-orang yang menguasainya.
Ketika pengetahuan tersebut tidak dicatat atau diteruskan, ia berisiko hilang seiring perubahan generasi. Karena itu, riset dalam program ini tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan karya, tetapi juga membangun upaya dokumentasi dan pengarsipan pengetahuan lokal.
Sejarah yang Belum Selesai
Pameran, film, e-magazine, dokumentasi gastronomi, dan presentasi hasil riset dalam Festival Menjadi Gresik tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir.
Seluruhnya menjadi bagian dari upaya membangun arsip pengetahuan yang dapat terus dikembangkan, dibaca kembali, diperdebatkan, bahkan dilengkapi oleh generasi berikutnya.
“Bagi kami, merawat kebudayaan bukan hanya menyelamatkan sesuatu dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan agar tetap bisa digunakan, dibicarakan, dan dimaknai oleh generasi hari ini. Karena itu, Menjadi Gresik bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan tentang memahami apa yang membuat kita menjadi Gresik hari ini,” kata Hidayatun.
Festival Menjadi Gresik berlangsung pada 15–30 Agustus 2026 dengan rangkaian kegiatan meliputi presentasi hasil riset, pameran, Seri Gastronomi, pemutaran film dokumenter, peragaan busana, lokakarya, walking tour, diseminasi, serta berbagai kegiatan kebudayaan lainnya.
Menjadi Gresik mencoba memulai pembacaan dari tempat dan hal-hal yang kerap dianggap sederhana: makanan yang dimasak di rumah, pakaian yang dikenakan, cerita yang disampaikan orang tua, tradisi yang dijalankan bersama, serta ingatan tentang tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang “Menjadi Gresik” bukan sekadar tentang apa yang dapat disebut sebagai budaya Gresik.
Pertanyaan itu juga menyentuh siapa yang memiliki pengetahuan tentangnya, siapa yang menceritakannya, dan bagaimana pengetahuan tersebut diwariskan.
Melalui festival ini, warga tidak hanya ditempatkan sebagai penonton sejarah kotanya sendiri. Mereka menjadi bagian dari proses untuk merekam, menceritakan, dan merawat sejarah tersebut.
Sebab, dalam ingatan yang disimpan warganya, sebuah kota terus menemukan cara untuk mengenali dan menjadi dirinya sendiri.
Editor : Abdul Aziz Qomar