Pelayaran Terganggu Cuaca, Warga Bawean Rela Bayar Rp600 Ribu Naik Pesawat ke Muktamar NU di Jombang

Reporter : Abdul Aziz Qomar
Pengurus PCNU Bawean saat akan naik pesawat menuju ke Muktamar NU ke-35 di Jombang. (Dok/Ist)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Gangguan pelayaran akibat cuaca buruk berdampak pada keberangkatan warga Pulau Bawean, Gresik, yang hendak menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang. Sejumlah peserta terpaksa memilih transportasi udara dengan biaya lebih mahal.

Ketua PCNU Bawean, KH Fauzi Rauf, mengatakan kondisi pelayaran yang belum normal membuat peserta dari Bawean harus mencari alternatif transportasi agar tetap dapat menghadiri Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Baca juga: Pelayaran Terganggu Cuaca, Warga Bawean Rela Bayar Rp600 Ribu Naik Pesawat ke Muktamar NU di Jombang

Salah satu alternatif yang digunakan adalah penerbangan Susi Air dari Bandara Harun Thohir Bawean menuju Bandara Trunojoyo, Sumenep. Untuk sekali perjalanan, peserta harus mengeluarkan biaya sekitar Rp600 ribu.

"Karena kapal tidak bisa berlayar akibat cuaca buruk, peserta dari Bawean terpaksa menggunakan pesawat Susi Air. Biayanya sekitar Rp600 ribu," kata Fauzi, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut cukup disayangkan karena masih banyak warga NU Bawean yang ingin berangkat untuk mengikuti dan memeriahkan Muktamar NU ke-35.

"Masih banyak warga NU Bawean yang ingin berangkat ke Muktamar. Tetapi kondisi pelayaran yang lumpuh tentu menjadi kendala bagi mereka," ujarnya.

Fauzi berharap Pemerintah Kabupaten Gresik segera mencari solusi atas persoalan konektivitas transportasi Bawean. Salah satunya dengan menambah armada kapal yang melayani rute Bawean-Gresik, terutama saat terjadi gangguan pelayaran akibat cuaca.

Baca juga: Pelaku Penganiayaan Kyai Kampung di Bawean Masih Bebas Berkeliaran, PCNU Minta Polisi Segera Tuntaskan

"Kami mendesak Pemerintah Kabupaten Gresik untuk menambah armada kapal. Jangan sampai masyarakat Bawean kesulitan bepergian hanya karena terbatasnya armada," jelasnya.

Ia menegaskan, kebutuhan transportasi laut tidak hanya berkaitan dengan keberangkatan warga NU menuju Muktamar. Kapal merupakan moda transportasi utama bagi masyarakat Bawean untuk terhubung dengan daratan Gresik dan wilayah lainnya.

Fauzi mengatakan hingga kini masih terdapat sejumlah rombongan yang belum dapat berangkat karena menunggu kepastian operasional kapal.

"Dan saat ini masih banyak rombongan yang belum bisa berangkat menunggu kepastian kapal," terangnya.

Karena itu, ia meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap konektivitas transportasi Bawean. Menurutnya, persoalan tersebut perlu mendapat solusi jangka panjang agar masyarakat tidak selalu menghadapi kendala ketika pelayaran terganggu.

"Kami berharap warga NU Bawean tetap bisa hadir dan ikut menyukseskan Muktamar. Namun, pada saat yang sama, persoalan transportasi ini perlu menjadi perhatian pemerintah agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi kendala seperti ini," paparnya.

Muktamar NU ke-35 dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Forum tersebut akan diikuti peserta dan pengurus NU dari berbagai daerah di Indonesia.

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru