Hilang Sejak Pagi, Nenek Penghuni Liposos Jember Ditemukan Menangis di Aliran Kali Jompo

Reporter : Muhammad Hatta
Tangkapan Layar Video Petugas Liposos, Saat Mencari Mbah Sani.

KLIKJATIM.Com | Jember – Seorang lanjut usia (lansia) penghuni UPT Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) Dinas Sosial Kabupaten Jember, Jawa Timur, bernama Mbah Sani (70) sempat memicu kepanikan petugas. Nenek sebatang kara tersebut dilaporkan kabur dari tempat pembinaan pada Rabu (3/6/2026) pagi.

Setelah kepolisian dan petugas gabungan melakukan pencarian intensif selama berjam-jam, Mbah Sani akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat. Saat ditemukan, ia sedang duduk seorang diri sambil menangis di pinggir aliran anak Sungai Kali Jompo, wilayah Kecamatan Kaliwates, Jember, sekitar pukul 15.00 WIB.

Baca juga: Hajatan Pernikahan di Jember Berubah Panik, Rumah Tetangga Ludes Terbakar Saat Acara Berlangsung

Kepala UPT Liposos Dinas Sosial Jember, Roni Effendi, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula pada pagi hari. Selepas seluruh penghuni menyelesaikan aktivitas mandi dan rutinitas harian, mereka diarahkan untuk mengikuti sesi relaksasi, mengaji bersama, serta konseling di luar ruangan yang menjadi bagian dari program pembinaan rutin.

Diduga saat kegiatan luar ruangan itu berlangsung, Mbah Sani memanfaatkan kelengahan petugas untuk berjalan keluar area tanpa terdeteksi. Begitu menyadari ada satu penghuni yang hilang, petugas langsung bergerak menyisir area persawahan dekat Kompleks Perumahan Argopuro, Kecamatan Kaliwates, meski upaya pertama ini belum membuahkan hasil.

Memasuki siang hari, petugas mendapat titik terang setelah menerima laporan dari warga yang sempat melihat seorang lansia perempuan berjalan ke arah utara. Berbekal informasi tersebut, petugas kembali melakukan penyisiran di area persawahan dan jalur-jalur yang dicurigai dilalui oleh korban.

Ikhtiar petugas akhirnya membuahkan hasil menjelang sore. Saat menyusuri aliran anak Sungai Kali Jompo, sayup-sayup petugas mendengar suara tangisan perempuan dari arah seberang sungai. Setelah didekati, suara tersebut ternyata berasal dari Mbah Sani yang sedang meratap sendirian di tepi sungai.

Proses evakuasi berlangsung dramatis lantaran lokasi penemuan tergolong sulit dijangkau, dipenuhi rumpun bambu yang rapat, serta minim akses jalan. Petugas bahkan harus nekat menyeberangi sungai dengan kedalaman diperkirakan mencapai satu hingga dua meter demi menjangkau dan membawa Mbah Sani ke tempat yang aman.

Baca juga: Dua Dekade Pasca-Banjir Bandang, Desa di Jember Ini Sukses Pikat Mahasiswa Thailand Belajar Lingkungan

“Petugas menemukan beliau setelah mendengar suara tangisan dari sekitar aliran sungai. Saat didekati, ternyata Mbah Sani sedang duduk di pinggir sungai. Untuk mengevakuasi, petugas harus menyeberangi sungai karena posisi beliau berada di seberang,” ujar Roni Effendi saat dikonfirmasi oleh awak media.

Roni menambahkan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan pendekatan secara persuasif dan psikologis untuk mengulik alasan Mbah Sani nekat meninggalkan lokasi pembinaan. Terlebih, kondisi penglihatan Mbah Sani juga diketahui sudah mulai kabur secara fisik.

“Pendekatan terhadap orang tua harus telaten, tidak boleh grusah-grusuh (tergesa-gesa). Kasihan, apalagi kami berkomitmen menganggap seluruh penghuni Liposos sebagai saudara sendiri tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain,” imbuhnya hangat.

Berdasarkan data pangkalan sosial, Mbah Sani merupakan lansia telantar yang hidup sebatang kara tanpa memiliki sanak saudara. Ia awalnya dievakuasi oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dari Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, dan mulai dirawat di UPT Liposos Jember sejak awal tahun 2026.

Baca juga: Inflasi Mei Lebih Tinggi dari April, BPS Ungkap Penyumbang Terbesarnya

Insiden kali ini ternyata merupakan aksi kabur kedua yang dilakukan oleh Mbah Sani. Sebelumnya, pada Minggu (31/5/2026) lalu, ia juga sempat melarikan diri dan baru berhasil ditemukan pada malam harinya saat telantar di depan Masjid Roudhotul Muhlisin Jember.

Dalam operasi pencarian kali ini, sedikitnya lima hingga delapan petugas Liposos dikerahkan penuh untuk menyisir area persawahan hingga aliran anak Sungai Kali Jompo yang bermuara ke Sungai Bedadung.

"Mbah Sani atau siapapun yang menghuni Liposos adalah tanggung jawab penuh kami. Mereka layak mendapatkan kehidupan yang layak dan perhatian tulus di usianya yang tidak lagi muda," pungkas Roni.

Editor : Fatih

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru