Pelestarian Mangrove di Tanjung Perak Perkuat Ekosistem Pesisir dan Dukung Dekarbonisasi Pelabuhan

Reporter : Abdul Aziz Qomar
Foto bersama Tim TJSL dan HSSE TPS bersama Ketua Kelompok Petani Mangrove, Shodiq Machfudz di area mangrove TPS pada Kamis (9/4). (Dok)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Upaya pelestarian ekosistem mangrove di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak yang dilakukan PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus menunjukkan hasil positif. Program yang telah berjalan sejak 2010 ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas kepelabuhanan dan keberlanjutan lingkungan.

Selama lebih dari satu dekade, TPS secara konsisten menjalankan rehabilitasi mangrove di sekitar wilayah operasional. Program tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga mencakup pemeliharaan, pengayaan vegetasi, serta perlindungan kawasan agar ekosistem tetap terjaga secara alami.

Baca juga: TPS Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko melalui Pelatihan Sertifikasi GRC

Hasilnya, kawasan pesisir di sekitar terminal menjadi lebih stabil dan berfungsi optimal sebagai pelindung alami dari abrasi, sekaligus menjaga kualitas lingkungan perairan.

Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, mengatakan bahwa pelestarian mangrove merupakan bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang perusahaan.

“Pelestarian yang kami lakukan sejak 2010 tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam mendukung operasional pelabuhan yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ekosistem mangrove di kawasan TPS kini berkembang menjadi habitat yang kaya bagi berbagai flora dan fauna pesisir. Selain itu, mangrove juga memiliki peran strategis dalam menghadapi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon.

Baca juga: Jaga Kepercayaan Publik, Manajemen TPS Perkuat Kompetensi Tata Kelola Melalui Sertifikasi GRC

Kemampuan tersebut menjadikan mangrove sebagai penyerap karbon alami (carbon sink) yang membantu menekan emisi dari aktivitas industri dan logistik di pelabuhan.

“Sekuestrasi karbon oleh mangrove menjadi bagian penting dalam upaya dekarbonisasi perusahaan. Ini adalah solusi berbasis alam yang terus kami kembangkan untuk menjawab tantangan perubahan iklim,” tambah Erika.

Selain pelestarian mangrove, TPS juga memperkuat langkah dekarbonisasi melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Dalam operasionalnya, TPS telah menggunakan tenaga listrik untuk peralatan utama seperti container crane (CC) dan rubber tyred gantry (RTG), guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Baca juga: TPS Uji Ketangguhan Operasional Lewat Simulasi Gangguan Sistem Terminal

Perusahaan juga mulai memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi tambahan yang lebih bersih dan efisien.

“Integrasi pelestarian mangrove dengan penggunaan energi bersih merupakan langkah nyata dalam menurunkan emisi karbon. Kami percaya keberlanjutan lingkungan dan kinerja operasional dapat berjalan beriringan,” jelasnya.

TPS memandang pelestarian mangrove sebagai investasi jangka panjang yang memberikan manfaat ekologis, sosial, sekaligus operasional. Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem pesisir serta mengembangkan inisiatif dekarbonisasi sebagai bagian dari visi menuju pelabuhan yang cerdas dan ramah lingkungan (Smart and Green Port).

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru