Kasus Bullying Siswa SMA di Jember Viral, Warga Kencong Desak Polisi Usut Tuntas

Reporter : Muhammad Hatta
KOORDINASI: Petugas Dinsos P3A Jember saat berada di Mapolsek Jombang untuk melakukan pendampingan terhadap kasus perundungan siswa SMA. (Foto: Ist)

KLIKJATIM.Com | Jember - Kasus dugaan perundungan (bullying) brutal yang menimpa seorang siswa kelas 1 SMA Ma’arif Jombang, Kabupaten Jember, kini menjadi sorotan tajam publik. Buntut dari tersebarnya video kekerasan tersebut di media sosial, gelombang desakan dari warga Kencong dan sekitarnya mengalir deras agar aparat penegak hukum mengusut tuntas aksi premanisme pelajar tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa video perundungan tersebut diduga sengaja disebarkan oleh salah satu terduga pelaku hingga memicu kemarahan masyarakat.

Baca juga: Korban Diduga Keracunan MBG di Jember Bertambah Jadi 22 Anak

Berdasarkan keterangan CT, seorang warga Kencong, insiden ini bermula dari masalah sepele terkait pesan suara (voice note/VN). Ponsel korban kala itu dipinjam oleh temannya untuk mengirim pesan berisi kata-kata tidak pantas kepada pihak lain.

“Padahal HP-nya itu dipinjam temannya, bukan korban yang langsung kirim. Tapi akhirnya disalahartikan dan memicu emosi para pelaku,” ujar CT saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (2/4/2026).

Aksi pengeroyokan tersebut melibatkan sekitar 10 orang remaja. Ironisnya, para pelaku berasal dari sekolah yang berbeda-beda di wilayah Jombang dan Kencong, bahkan beberapa di antaranya berada di bawah naungan yayasan pendidikan yang sama dengan korban namun beda jenjang.

Sempat beredar isu bahwa kasus ini tidak akan diproses, namun Polsek Jombang menegaskan bahwa hukum tetap berjalan. Perkembangan terbaru menunjukkan keseriusan polisi dalam menangani kasus anak ini.

Baca juga: 18 Siswa PAUD dan TK Diduga Keracunan MBG di Kaliwates Jember

“Sekitar pukul 01.00 WIB dini hari tadi, 10 terduga pelaku sudah diamankan semua ke Mapolsek Jombang untuk pemeriksaan lebih lanjut,” imbuh CT yang juga berprofesi sebagai guru ini.

Saat ini, korban masih dalam perlindungan ketat keluarga. Ayah korban memilih untuk menjauhkan anaknya dari keramaian demi menjaga kondisi psikologis dan keamanan sang anak pasca-kejadian traumatis tersebut.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dinas Sosial Jember, Sugeng Riyadi, menyatakan bahwa pihaknya telah turun tangan. Fokus utama Dinsos saat ini adalah memulihkan trauma mental yang dialami korban.

Baca juga: Salah Paham Isu Begal, Pria Mabuk di Jember Diamuk Warga Usai Masuk Rumah Tanpa Izin

“Untuk proses hukum menjadi kewenangan kepolisian. Kami dari Dinsos fokus pada pendampingan psikis korban. Namun, para terduga pelaku yang juga masih di bawah umur tetap kami dampingi melalui koordinasi dengan UPT PPA dan pekerja sosial,” jelas Sugeng.

Dinsos Jember juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jember serta Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk melakukan langkah preventif agar konflik personal yang meluas melalui media digital seperti ini tidak terulang kembali.

Dukungan moril terus mengalir dari para wali murid dan masyarakat luas bagi korban. "Semoga korban mendapat keadilan. Meskipun para pelaku masih di bawah umur, kami berharap ada hukuman yang setimpal agar memberikan efek jera," pungkas CT.

Editor : Fatih

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru