Dari Gamelan hingga Ayam Petelur: Jejak Nyata PEPC Membangun Kemandirian dan Kearifan Lokal

Reporter : M Nur Afifullah

KLIKJATIM.Com | Bojonegoro — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, suara gamelan kini kembali menggema di Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro. Nada-nada lembut dari saron, bonang, dan gong berpadu dalam harmoni yang sarat makna: gotong royong, kesabaran, dan kebersamaan.

Semua itu berawal dari komitmen PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Regional Indonesia Timur, yang melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) mendukung pelestarian budaya Jawa lewat Kelompok Seni Joyo Tirto Budoyo Laras (JTB-L). Dukungan ini meliputi pengadaan peralatan gamelan lengkap, pembangunan sanggar seni, penyediaan kostum pertunjukan, hingga pendampingan legalitas dan promosi kesenian lokal.

Baca juga: PHE Perkuat Ketahanan Energi Nasional Melalui Optimalisasi Produksi dan Eksplorasi

Menjaga Nafas Budaya, Menumbuhkan Karakter

Di sanggar baru yang kini berdiri kokoh di tengah desa, Sutrisno, Ketua JTB-L, tampak sibuk mempersiapkan latihan sore. “Dulu kami harus meminjam alat dari tempat lain, kadang latihan pun seadanya. Sekarang kami punya gamelan sendiri. Anak-anak semakin semangat,” ujarnya dengan mata berbinar.

Setiap sore, suara gamelan menjadi magnet bagi anak-anak desa. Salah satunya Nafisa (12 tahun), siswi SD Kaliombo, yang dengan lincah menabuh bonang kecil. “Awalnya saya cuma nonton, tapi lama-lama pengin ikut. Main gamelan itu seru, harus kompak dan sabar,” ucapnya polos.

Kepala Desa Kaliombo, Rohmad Edi Suyanto, menyebut program PEPC ini sebagai bentuk nyata kolaborasi antara budaya dan pembangunan.

“Desa kami tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tapi juga secara budaya. Warga punya kebanggaan tersendiri saat gamelan berbunyi, karena di situ ada jati diri kita,” tuturnya.

Bagi PEPC, pelestarian budaya bukan sekadar kegiatan sosial, tapi juga investasi nilai. “Gamelan bukan hanya alat musik, melainkan simbol harmoni dan kebersamaan. Kami ingin anak-anak Bojonegoro tumbuh mencintai seni tradisi mereka sendiri,” ujar Rahmat Drajat, Manager Communication Relation & CID PEPC Regional Indonesia Timur.

Melalui dukungan ini, PEPC tidak hanya menjaga seni karawitan tetap hidup, tetapi juga menanamkan nilai karakter dan kebanggaan lokal bagi generasi muda.

Dari Nada ke Telur: Menggerakkan Ekonomi Desa

Masih di Desa Kaliombo, harmoni budaya itu kini berpadu dengan geliat ekonomi baru. Tak jauh dari sanggar seni, kandang ayam petelur milik BUMDes Kaliombo berdiri rapi. Suara ayam bersahut-sahutan menandakan kehidupan baru di sektor ekonomi warga.

Program budidaya ayam petelur ini merupakan bagian dari PPM PEPC Zona 12, yang bertujuan menciptakan kemandirian ekonomi berkelanjutan. Warga tidak hanya menerima bantuan, tapi juga dibekali pelatihan kewirausahaan, manajemen usaha, dan pendampingan teknis. “Program ini bukan sekadar bantuan, melainkan investasi sosial,” jelas Rahmat Drajat.

Baca juga: Komisi VI DPR Ingatkan Pemerintah: Beban Selisih Harga BBM Jangan Dibebankan Sepenuhnya ke Pertamina

Slamet, pengelola BUMDes Kaliombo, mengaku program ini membawa perubahan besar. “Dulu kami hanya jadi penonton, sekarang kami jadi pelaku ekonomi yang mandiri. Kami bisa produksi telur untuk kebutuhan lokal dan dijual ke pasar,” ungkapnya bangga.

Selain mendorong ekonomi desa, program ini juga memberi dampak sosial yang kuat — meningkatkan ketersediaan gizi melalui produksi telur segar untuk warga, terutama anak-anak dan ibu hamil. “Ketersediaan telur dari desa sendiri membantu pemenuhan gizi masyarakat. Kami berharap usaha ini terus berkembang,” tambah Rahmat.

Program ini mencerminkan semangat ESG (Environmental, Social, and Governance) dan SDGs (Sustainable Development Goals): membangun ekonomi desa, meningkatkan kesejahteraan, serta memperkuat kapasitas masyarakat sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Sekolah Energi Berdikari: Menumbuhkan Generasi Hijau

Tak berhenti pada budaya dan ekonomi, PEPC juga berfokus pada pendidikan dan lingkungan. Melalui Program Sekolah Energi Berdikari (SEB) di SMP Negeri 1 Ngasem, perusahaan menanamkan nilai-nilai green education kepada generasi muda Bojonegoro.

Di sekolah itu, halaman yang dulu gersang kini hijau oleh vertical garden dan lubang biopori hasil karya siswa. Mereka belajar langsung tentang energi terbarukan, konservasi lingkungan, dan kewirausahaan ramah lingkungan. “Kami percaya investasi terbaik adalah pada sumber daya manusia,” kata Rahmat Drajat.

Baca juga: Kapal Suplai Off SHore PHE WMO Selamatkan ABK KLM Tirta Abadi di Perairan Gresik

Salah satu siswi, Larasati (13 tahun), memperlihatkan hasil tanamannya dengan bangga. “Sekarang kami tahu cara hemat energi dan menjaga bumi. Sekolah jadi lebih hijau dan nyaman,” ujarnya sambil tersenyum.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan lingkungan bisa berjalan seiring, menyiapkan generasi muda yang sadar energi dan siap menjadi pelopor perubahan. Guru pembimbing SEB menambahkan, “Anak-anak belajar disiplin, peduli, dan kreatif. Mereka bukan hanya cerdas di kelas, tapi juga tangguh menghadapi masa depan,” ungkapnya.

Harmoni Energi, Budaya, dan Kemandirian

Dari lantunan gamelan di sanggar Kaliombo, deru aktivitas di kandang ayam BUMDes, hingga hijau tanaman di halaman sekolah, semua mengalir dalam satu makna: energi yang menghidupkan.

PEPC, bersama SKK Migas dan masyarakat Bojonegoro, terus menyalakan semangat pembangunan yang berakar pada budaya, ekonomi, dan lingkungan.

“Dari seni, ekonomi, hingga pendidikan, PEPC membuktikan bahwa energi tak hanya menggerakkan mesin, tetapi juga menyalakan harapan masyarakat. Inilah jejak nyata PEPC: menghadirkan energi bukan hanya untuk industri, tetapi juga untuk kehidupan — membangun Bojonegoro yang berdaya, berbudaya, dan berkelanjutan,” pungkas Rahmat Drajat, Manager Communication Relation & CID PEPC Regional Indonesia Timur. 

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru