Gresik Kota Perdagangan dan Peradaban: Refleksi Budaya dari Masa Lalu untuk Menjawab Tantangan Masa Kini

Reporter : Abdul Aziz Qomar
Ketua DPRD Gresik M. Syahrul Munir saat menyampaikan refleksi sejarah dan kebudayaan Gresik (Dok)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Pameran seni lukis yang digelar oleh Sanggar Lentera di Gedung DPRD Gresik resmi ditutup dengan sarasehan kebudayaan pada Jumat, 16 Mei 2025. Acara tersebut menghadirkan Ketua DPRD Gresik M. Syahrul Munir dan budayawan Kris Aji AW sebagai narasumber, mengangkat tema "Arus Balik Kebudayaan: Gresik Sebagai Kota Perdagangan dan Peradaban."

Dalam paparannya, Ketua DPRD M. Syahrul Munir mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya budayawan dan seniman, untuk merefleksikan kembali warisan kebudayaan serta etos dagang Gresik di masa lampau sebagai bekal dalam menghadapi tantangan zaman.

Baca juga: Wadahi Kreativitas Siswa, SMP YIMI Gresik Sukses Gelar Spesmi’s Got Talent 2026

Menurut Syahrul, Gresik telah lama dikenal sebagai kota perdagangan internasional. Pada masa lampau, dua pelabuhan penting di Pulau Jawa berada di wilayah ini, yaitu Pelabuhan Jaratan dan Pelabuhan Grisse. Gresik kala itu menjadi pusat pertukaran barang dan jasa dengan dunia luar, sekaligus mengekspor berbagai produk lokal ke mancanegara.

"Namun lebih dari itu, Gresik juga menjadi titik temu pertukaran budaya. Seperti disampaikan oleh Hilmar Farid, Indonesia bukan sekadar penerima pasif kebudayaan asing, melainkan juga produsen dan penyebar kebudayaan sejak zaman kuno. Gresik adalah salah satu contohnya," ujar Syahrul.

Keramahan masyarakat Gresik turut menjadi faktor penting tumbuhnya peradaban yang maju. Hal ini dapat dilihat dari hadirnya berbagai kampung multikultural seperti Kampung Kemasan, Kampung Arab, dan Kampung Pecinan.

Baca juga: Anggaran Bosda Gresik 2023 Dikembalikan, Tetap Ada Dalam P-APBD 2023
[caption id="attachment_147856" align="alignnone" width="300"] Suasana sarasehan kebudayaan di teras Gedung DPRD Gresik (Dok)[/caption]

Baca juga: Polda Jatim dan Polres Gresik Perketat Pengawasan, Senjata Api Anggota Diperiksa Menyeluruh

Sebagai kota peradaban, Gresik memiliki sejarah panjang melalui keberadaan Giri Kedaton. Dipimpin oleh Sunan Giri (Raden Paku), Giri Kedaton berperan sebagai pusat kekuasaan politik dan penyebaran agama Islam pada periode 1487–1506. Sunan Giri tak hanya dikenal sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga tokoh penting dalam politik Nusantara. Ia berperan dalam perintisan Kesultanan Demak bersama Raden Patah setelah lepas dari pengaruh Majapahit.

"Warisan peradaban tersebut masih terasa hingga kini. Gresik dikenal sebagai kota religi, yang tercermin dalam berbagai kebijakan pemerintah daerah, seperti Perda Larangan Miras—satu-satunya di Jawa Timur," lanjut Syahrul.

Ia menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai budaya dan sejarah Gresik sebagai pijakan dalam merumuskan kebijakan masa kini.

Baca juga: Groundbreaking Pabrik Nitrat di Gresik, Kapolres Dukung Penguatan Industri dan Ketahanan Pangan

Dalam konteks ekonomi industri dan perdagangan masa kini, salah satu contohnya adalah keberadaan kawasan industri terpadu JIIPE (Java Integrated Industrial and Ports Estate), yang menjadi pusat investasi berbagai sektor industri dari pelaku industri (pedagang) mancanegara. Hadirnya pusat-pusat industri yang terintegrasi dengan pelabuhan di Gresik pada masa kini seperti memutar waktu kembali ke masa lalu, di mana Kabupaten Gresik sebagai pusat perdagangan internasional.

“Sekarang tantangannya adalah bagaimana kita bisa menumbuhkan individu-individu yang berdaya dan produktif. Masyarakat Gresik tidak hanya menjadi pekerja di kawasan industri, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang bisa dipertukarkan seperti pada masa kejayaan Gresik tempo dulu,” pungkas Syahrul. (qom)

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru