KLIKJATIM.Com | Gresik - Ini kali kedua saya terlibat dalam event pameran lukis para perupa dari Gresik di Vinautism Gallery Citraland Surabaya. Pembukaan pameran dilaksanakan tanggal 2 November dan berakhir 2 Desember 2024.
Peran Dewi Musdalifah sebagai penulis dalam upaya menjembatani karya dengan penikmatnya. Mengungkap daya cipta pada kredo pengkaryaan mereka.
Dalam dunia yang serba terkoneksi dikarenakan teknologi, memungkinkan keterhubungan antarmanusia semakin cepat dan mudah. Namun di sebalik itu, tersembul perasaan “asing” dan kehilangan makna dari keterhubungan itu sendiri.
Sebuah keadaan yang merasa terpisah dari diri, orang lain dan dunia. Ikhwal Keterasingan atau Alienansi inilah yang diangkat sebagai tema dalam pameran lukisan. Dengan kesadaran tentang cara keluar dari persoalan ini, mencari dan membangun autentisitas diri.
Sikap inilah yang ingin ditunjukkan oleh lima seniman rupa : Aam Artbrow (Kedanyang, Gresik) , Rezzo Masduki (Panceng, Gresik), Loyong Budi Harjo (Menganti, Gresik) , Yoni Rizal (Suci, Gresik) Sugihartono (Driyorejo, Gresik).
Jati diri yang muncul dalam setiap karya merupakan kekuatan jiwa yang memberi napas di sebalik kehadiran dan ekspresi. Menjaga keseimbangan dan daya tawar untuk menjauh dari keterasingan.
Cerminan autentisitas para perupa yang mewujud bersumber dari pernyataan, ekspresi dan pesan yang digoreskan sebagai tamsil.
Berbincang dengan Rudi Purwono, pemilik Vinautism Gallery mengatakan bahwa ini pameran ke 15 di tempatnya dalam kurun waktu 2,5 tahun. Setiap bulan 1 kali moment semacam ini digelar. Gallery didedikasikan sebagai bentuk rasa terberkati karena anaknya yang Autism bernama Vincen menunjukkan prestasi di bidang lukis dengan perkembangan yang baik. Sekaligus ingin berbagi kepada masyarakat bahwa kesenian merupakan alternatif pendidikan bagi anak Autism.
Seiring perkembangan, pameran karya akhirnya meluas dengan mendatangkan para perupa dari berbagai daerah di Jawa Timur di antaranya kota Gresik.
Hadir pula, Joko Pramono yang akrab disapa Jopram salah satu pelukis Nasional asal Sidoarjo, Jawa Timur. Perbincangan saya dengannya mengulas spirit dan semangat yang dimiliki para perupa Gresik. Berusaha terus menciptakan ruang untuk mempertahankan eksistensi pengkaryaan.
Masing-masing mempunyai kekuatan dan ciri khas yang tumbuh lebih menarik. Aam Artbrow, seniman rupa yang terus mengolah berbagai karakter karyanya dan saat ini merujuk pada Pop Art. Upaya yang berani meski tetap menampilkan kegelisahan-kegelisahan.
Sedangkan Rezzo Masduki, perupa yang memulai menciptakan karya dengan otodidak, terus berproses dengan tekun. Dan karyanya paling unik, membangun imajinasi dengan menggabungkan banyak unsur, cenderung surealistik. Selayak tulisan kaligrafi yang penuh dengan makna spiritualitas.
Loyong Budi Harjo, dunia fantasi yang imajiner. Karya-karya unik dan detail, menciptakan dongeng lewat media visual dengan tema humanisme.
Pelukis Yoni rizal, merespon budaya kekinian wacana dunia lukis yang lagi marak. Selayak artificial Intelligence. Ornamen planet menjadi objek yang terasa dekat dengan masa depan. Emosi yang muncul berpadu padan dengan nuansa modern.
Perupa paling senior diantara mereka, Sugihartono selalu melakukan eksplorasi yang terus bertumbuh. Mulai dari tema surealis, sentuhan realis simbolis, bahkan lukisan abstrak berjudul City on the rock terasa menarik dan universal.
Para perupa dalam pameran ini menggarap tema kehidupan secara intuitif dan kritis. Melalui kekuatan emosi dan intuisi yang merupakan sejarah mental pelukis dengan menggunakan bahasa rupa yang unik, menakjubkan bahkan mengejutkan
Gagasan orisinal seniman rupa yang ditampilkan dalam sebuah karya berhadapan dengan persepsi yang ditangkap oleh penikmatnya, maka dibutuhkan keduanya dalam satu pertemuan lewat pameran atau gelar karya.
Pertemuan antara karya rupa dengan publik menjadi media komunikasi pengalaman merasakan suatu keindahan dengan ekspresi seni rupa.
Pengkarya mencipta sebagai upaya menafsirkan dan menempatkan diri dalam konteks yang selalu berubah. Merupakan hakikat transendensi manusia dalam menghindari kebekuan eksistensinya.
Dan upaya bertarung dengan keterasingan dari diri sendiri, orang lain dan dunia dengan daya ungkap identitas dan autentisitas sebagai manusia utuh.
Seniman rupa di Gresik selalu memiliki gairah untuk menggelar pameran di berbagai kota di luar Gresik. Mencari dan berusaha menemukan apresiasi dan support system yang sampai sekarang belum ditemukan di kotanya sendiri. Alangkah rindunya mereka akan adanya ruang-ruang pameran yang layak, sebagai apresiasi bagi kreativitas di bidang seni rupa yang membuncah.
Salam hangat dan sukses selalu. (*)
Penulis Adalah Dewi Musdalifah, Guru SMA Muhamadiyah 1 Gresik
Editor : Redaksi