Hingga Kuartal I/2022, Lifting Masih Dibawah Target, SKK Migas Sebut Ini Penyebabnya

klikjatim.com
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto saat menyampaikan kondisi lifting migas hingga Kuartal I/2022 kepada media dalam konferensi pers, Jumat (22/4/2022)

KLIKJATIM.Com | Jakarta - Target lifting (kapasitas terangkut) minyak dan gas nasional hingga Kuartal  I/2022 masih dibawah target. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan, lifting minyak selama Januari-Maret 2022 rata-rata mencapai 611,7 ribu barel per hari (bph), lebih rendah dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 sebesar 703 ribu bph.

"Untuk lifting gas juga hampir sama, rata-rata kuartal I masih sebesar 5.321 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), lebih rendah dari target 5.800 MMSCFD,"kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam keterangan pers secara daring Jumat (22/4/2022).

Baca juga: Kado May Day 2026: Presiden Prabowo Umumkan Perlindungan Menyeluruh, Tetapkan Marsinah Pahlawan Nasional

Dikatakan  ada sejumlah penyebab belum tercapainya target lifting migas selama kuartal I 2022. Di antaranya  dari titik awal produksi (entry point) pada awal tahun 2022 yang rendah karena dampak dari pandemi Covid-19 hingga terjadinya penghentian operasi yang tak terduga (unplanned shutdown) di sejumlah lapangan migas.

"Produksi dan lifting mostly kita masih terkendala karena entry point yang masih rendah di tahun 2022 karena dampak dari pandemi 2021, jadi kita lost di sana sekitar 20 ribu barel per hari (bph), kemudian mostly juga dampak dari unplanned shutdown," ujar mantan Dirut PT Pertamina ini.  

Dwi mengungkapkan, awal Januari 2021, posisi produksi minyak masih berada di kisaran 687 ribu bph, namun sayangnya terjadi sejumlah kejadian, mulai dari kebocoran pipa seperti di Blok Offshore North West Java (ONWJ), unplanned shutdown di Medco Natuna, lalu perawatan di HCML, unplanned shutdown di BP, dan lainnya, sehingga pada akhir 2021 produksi turun menjadi 652 ribu bph.

Kemudian, imbuh dia, terjadi kembali unplanned shutdown atau gangguan di PHE ONWJ, lalu PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), dan Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) pada akhir 2021 hingga awal 2022, sehingga pada Januari 2022 produksi dimulai rendah pada tingkat 616 ribu bph. Namun pada Februari naik lagi menjadi 626 ribu bph, dan Maret 2022 sekitar 628 ribu bph."Kita coba bagaimana menurunkan unplanned shutdown, ini sudah jadi strategi kita, tapi so far belum sukses," ucapnya.

Dari sisi rasio penggantian produksi oleh cadangan baru (Reserve Replacement Ratio/ RRR) menurutnya mencapai 42% atau setara 265,1 juta setara barel minyak (MMBOE) dari target 635 MMBOE.

Baca juga: Pemkab Sampang Terima Hibah Aset Tanah dari Kementerian Keuangan RI

Dalam kesempatan itu, Dwi membeberkan, kondisi minyak global pasca perang Ukraina dan Rusia. Dia memperkirakan harga minyak rata-rata pada 2022-2023 masih relatif tinggi di atas US$ 100 per barel.

Menurutnya, perkiraan masih tingginya harga minyak hingga tahun depan ini karena dipicu membaiknya kondisi perekonomian akibat mulai terkendalinya penularan Covid-19 dan juga serangan Rusia ke Ukraina.

"Beberapa analisa masih melihat harga ini naik turun, ada yang analisa cukup tinggi kenaikannya. Dari sisi forecast, karena pandemi Covid-19 akan semakin mereda, sehingga travelling akan sangat meningkat tajam, kegiatan bisnis meningkat tajam akan memengaruhi demand. Di sisi lain suplai terganggu krisis Rusia-Ukraina, sehingga harga diperkirakan masih akan cukup tinggi dalam satu dua tahun ke depan. 2022-2023 diperkirakan masih akan US$ 100 per barel," papar mantan Dirut Semen Indonesia ini.

Baca juga: Borong 11 Penghargaan, Jawa Timur Kukuhkan Diri Sebagai Provinsi Berkinerja Terbaik Nasional pada EPPD 2025

Dwi Soetjipto menyebut, harga rata-rata minyak mentah Brent pada Maret mencapai US$ 112,46 per barel, bahkan sempat menyentuh US$ 127,98 per barel pada 8 Maret 2022 lalu.Sementara asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 ditetapkan sebesar US$ 63 per barel.

Begitu juga dengan harga gas alam cair (LNG). Harga gas global kini juga mengalami peningkatan hingga di atas US$ 25 per juta British thermal unit (MMBTU).

"Untuk jangka panjang, diperkirakan harga gas Asia masih mendekati US$ 10 per MMBTU, lebih tinggi dari Eropa dan US," ucapnya. (ris)

Editor : Much Taufiqurachman Wahyudi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru