KLIKJATIM.Com | Pacitan--Warga Pacitan akhirnya memiliki jembatan anti gempa. Infrastruktur darurat itu dibangun Kementerian Sosial (Kemensos) di atas Sungai Teleng, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan. Pembangunan jembatan penghubung lingkungan Teleng dan Jaten tersebut menelan biaya Rp 200 juta.
Pantauan di lokasi, jembatan berwarna merah itu sudah mulai difungsikan. Warga penasaran dan menjadikan jembatan sebagai tempat berswafoto atau berselfie ria.
Baca juga: Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Tenggara Pacitan, BMKG Catat Empat Gempa Susulan
Ada beberapa orang yang antri untuk berfoto. Maklum saja jembatan dengan lebar 1 meter itu memang maksimal hanya boleh dilewati tiga orang.
"Bagus dan penasaran. Tapi ya itu tadi jembatannya goyang. Jadi takut-takut gimana," ujar seorang warga, Indah Purnama, Sabtu (12/2/2022).
Sementara, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Pacitan Sumorohadi mengatakan, pembangunan jembatan itu menggandeng tim ahli yang berkompeten. Mereka juga mengerjakan jembatan kedaruratan serupa di Indonesia.
Konsepnya sesuai arahan Mensos Tri Rismaharini saat ke Pacitan akhir tahun lalu. Desainnya anti Gempa. Juga menjadi akses penghubung alternatif dari Teleng ke Bukit Jaten di sisi barat.
Jika potensi gempa besar merusak jalur utama, warga tak kesulitan mengevakuasi diri. ‘Ketika jembatan utama roboh, masih ada jembatan cadangan yang bisa digunakan untuk evakuasi ke tempat aman.
Baca juga: Alun-Alun Pacitan Bergemuruh, Konsumen Setia Honda Boyong Hadiah Motor dalam Pengundian UKH
Meski dikhususkan bagi kedaruratan, ada sejumlah batasan yang diterapkan saat melintas jembatan tersebut. Mulai kapasitas orang yang menyeberang hingga larangan berhenti di atas jembatan.
"Ya Maklum saja, konstruksinya didesain dari tali baja dengan kemampuan terbatas. Jadi terbatas," bebernya.
Dia mengaku memang sekarang dijadikan tempat berswafoto. Sumorohadi mengaku hal itu tidak jadi masalah. Hanya saja, warga harus memperhatikan rambu-rambu yang ada.
Sementara Ketua DPRD Kabupaten Pacitan Roni Wahyono menanggapi rambu rambu salah satunya hanya digunakan untuk maksimal tiga orang bergantian menjadi satu pertanyaan besar. Padahal intinya jembatan dibangun itu harus bisa digunakan oleh banyak orang saat darurat dan yang terpenting lagi harus layak bisa menjamin keamanan saat dilewati masyarakat.
Baca juga: Bencana Longsor Terjdi di 11 Titik Ruas Jalan Ponorogo-Pacitan
“Kalau tadi melihat papan peringatan untuk tiga orang itu kan agak kontraproduktif lah. Kalau kita bayangkan masa darurat itukan rombongan orang. Hal ini akan kita klarifikasi dulu ke Dinas Sosial,” kata Roni.
Roni Wahyono menyampaikan, dari tagana memberikan masukan agar di sekitar jembatan gantung itu dibuat taman siaga bencana untuk sarana edukasi siswa taman kanak-kanak mengetahui fungsi manfaat jembatan darurat.
"Ketika orang nanti ada bencana mereka sudah terbiasa. Kalau ada anak anak sekolah kesana, ya, nggak masalah, yang penting ada pengawasan dari orang yang berkompeten,” pungkasnya.(mkr)
Editor : Fauzy Ahmad