KLIKJATIM.Com I Lumajang - Ratusan siswa korban bencana Semeru harus belajar bergantian di tenda darurat. Sebab, sekolah mereka rusak dan tidak bisa difungsikan.
[irp]
Baca juga: Sengkarut Kebakaran KM Mutiara Sentosa II: Polisi Temukan Data Manifes Tak Sinkron
Ada sekitar 100 siswa yang harus belajar dengan fasilitas seadanya. Mereka berasal dari tiga sekolah, yakni SDN Supiturang 3, SDN Sumberwuluh 2 dan SDN Sumbermujur 1.
SDN Sumberwuluh 2 dan SDN Supiturang 3 mengalami kerusakan pasca bencana Semeru. Sementara SDN Sumbermujur 1, sekolahnya digunakan sebagai pos pengungsian korban.
Siswa-siswi ini belajar jadi satu di tenda, tanpa penyekatan. Mereka juga mengenakan alas seadanya, dan membawa meja sendiri.Wiko Bagus, Guru SDN Supiturang 3 menyebut, ada 2 siswanya yang meninggal dunia pasca erupsi Semeru.
Baca juga: Perluasan Areal Tebu Dimulai, SGN Perkuat Produksi Gula di Indonesia Timur
“Yang 2 meninggal. Siswa kelas 1 sama kelas 5,” jelasnya.
Wiko kemudian mengatakan, selain korban jiwa, belasan siswanya juga mengalami luka-luka dan mendapat perawatan. Siswa yang selamat kemudian sekolah seperti biasa.
Ada 2 tenda darurat untuk belajar. Yakni di Sumbermujur dan Balai Desa Penanggal. Selain itu, ada juga yang belajar di teras rumah warga.
Baca juga: Sah! P-APBD Sumenep 2026 Tembus Rp2,61 Triliun, Pemkab Pacu Pembangunan di Sisa Tahun
“Suaranya kurang nyampek ke belakang. Lebih enak di kelas. Semoga cepat selesai, biar anak-anak bisa belajar di kelas,” kata Intan Purnama. (*)
Editor : Redaksi