KLIKJATIM.Com | Gresik — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik, mulai menghitung nilai kerugian akibat bencana tanah longsor yang terjadi di Pulau Bawean, pada Minggu (28/11/2021) kemarin. Misalnya di Desa Gunungteguh, Kecamatan Sangkapura yang diperkirakan mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
[irp]
Baca juga: Pencarian Korban Tenggelam di Perairan Pulau Mandangin Sampang Masih Nihil
Pasalnya longsor di wilayah setempat terjadi di tiga titik. Antara lainnya di Dusun Baratsawah yang mengakibatkan Tembok Penahan Tanah (TPT) ambrol.
“Mengalami kerusakan sepanjang 31 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 6 meter dengan kerugian diperkirakan Rp300 juta,” ungkap Kepala BPBD Gresik, Tarso Sagito, Selasa (30/11/2021).
Kemudian longsor di Dusun Gunungmenur, tepatnya tebing di Pekarangan Rumah Syamsul Arif (45). Rinciannya sepanjang 15 meter dan tinggi 3 meter. Dengan Estimasi kerugian diperkirakan Rp75 juta.
Selanjutnya di Dusun Pettongbulung. Tebing di Pekarangan Rumah Haniyah mengalami longsor sepanjang 7 meter dan tinggi 4 meter. Untuk estimasi kerugiannya Rp65 juta.
Sehingga total kerugian materiil akibat longsor di wilayah setempat mencapai sekitar Rp440 juta. “Dari beberapa titik longsor di Desa Gunungteguh tidak ada korban jiwa,” ujar Tarso.
Lanjut Tarso, saat ini pihaknya akan berkoordinasi dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sangkapura dan Pemerintah Desa (Pemdes) Gunungteguh.
Terpisah, Anggota Komisi III DPRD Gresik, Lutfi Dhawam dari daerah pemilihan (dapil) Bawean saat dikonfirmasi mengaku sudah melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) bersama beberapa instansi terkait atas kejadian tersebut. Dan hasilnya ada beberapa bukit di Pulau Bawean, yang kondisinya sudah mulai gundul akibat banyak penebangan pohon. Sehingga pada saat terjadi hujan lebat sudah tidak mampu lagi menampung air dan berdampak terjadinya banjir serta longsor.
“Dulu masih banyak pohon besar di beberapa bukit di Pulau Bawean, kini hampir seluruhnya ditebang. Ini juga menjadi atensi kami untuk memikirkan krisis ekologi dan perubahan iklim di Pulau Bawean,” papar anggota komisi yang membidangi urusan pembangunan tersebut.
Untuk itu, Dawam juga mengaku telah berkoordinasi dengan beberapa komunitas dan kelompok lingkungan. Harapannya secara bersama-sama bisa memberikan sosialisasi untuk kelestarian lingkungan dan alam di Bawean.
“Meski ini faktor alam, ini harus menjadi atensi dan perhatian bagi masyarakat Pulau Bawean,” tegas Ketua Fraksi Gerindra itu.
Sebelumnya, hujan lebat hingga seharian terjadi di Pulau Bawean pada Minggu (28/11/2021) sekitar pukul 15.00 WIB. Akibatnya, sejumlah Desa di Pulau Bawean mengalami banjir dan longsor.
Dari data yang dihimpun ada 3 desa yang terdampak banjir. Antara lainnya Desa Sawahmulya, Kotakusuma, dan Lebak. Sedangkan 2 desa terdampak longsor yaitu Desa Sungairujing dan Gunungteguh. Terparah di Desa Gunungteguh dengan kerugian berkisar Rp440 juta. (nul)
Editor : Redaksi