KLIKJATIM.Com | Gresik - Komoditas kunyit dan empon-empon (bahan rempah) di Gresik masuk pasar ekspor. Salah satunya komoditas dari Desa Sidoraharjo, Kecamatan Kedamean, yang memiliki potensi penghasil kunyit terbanyak di wilayah setempat.
[irp]
Baca juga: Sinkronisasi Pusat: Khofifah Pastikan WFH ASN Pemprov Jatim Berlanjut, Jadwal Geser ke Hari Jumat
Rencananya pada Oktober 2021 nanti akan menyiapkan komoditas untuk diekspor.
Kepala Desa (Kades) Sidoraharjo Suwoto mengatakan, hasil pertanian kunyit yang merupakan ikon desa merupakan komoditas potensial di desa setempat. Kondisinya juga sangat melimpah, yakni ada sekitar 15 hektare lahan kunyit dengan kapasitas sekitar 2.700 ton per tahun.
"Dengan adanya ekspor itu, bisa meningkatkan perekonomian warga desa," kata Suwoto kepada wartawan di Gresik, pada Rabu seperti dilansir repjogja.republika.co.id.
Kasi Promosi Perdagangan Luar Negeri Dinas Koperasi dan Perindustrian serta Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Gresik, Sunik mengaku bahwa dorongan ekspor sudah menjadi bagian dari upaya Pemkab Gresik untuk membantu dan membina UMKM kunyit.
Baca juga: Perkuat Pendidikan Vokasi, MPM Honda Jatim Kini Miliki 17 TUK Astra Honda Berstandar Industri
"Ekspor bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. Bahkan sekarang bisa mudah untuk dilakukan, karena kemudahan perizinan yang jauh lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.
Sementara itu, Klinik Ekspor Bea Cukai Kabupaten Gresik, Eko Rudi menjelaskan, pihaknya siap memfasilitasi UMKM mulai ekspor kunyit tersebut. Fasilitas yang diberikan bisa meliputi perizinan, pembuatan katalog produk, mencarikan pembeli, serta memfasilitasi komunikasi dan zoom meeting dengan pihak buyer.
"Saat ini rata-rata 90 persen buyer berasal dari India dan sisanya wilayah Eropa," kata Eko.
Baca juga: Perkuat Semangat Kebersamaan Iduladha, MPM Honda Jatim Salurkan Puluhan Hewan Kurban
Perlu diketahui sebelumnya, pada Oktober 2021 wilayah Kecamatan Kedamean khususnya Desa Sidoraharjo direncanakan bakal melakukan ekspor kunyit secara mandiri, serta dibantu kelola oleh BUMDes.
Harapannya dengan ekspor ini bisa mengangkat ekonomi warga desa yang mayoritas petani kunyit. Tapi, saat ini nilai jualnya jauh dari harapan yang berkisar atara Rp800-Rp1000 per kilogram kunyit basah. (*/nul)
Editor : Redaksi