KLIKJATIM.Com | Surabaya - Keterlambatan pasien positif untuk berangkat ke Rumah Sakit (RS) menjadi faktor yang mempengaruhi angka kematian di Jawa Timur (Jatim) terus bertambah.
[irp]
Baca juga: Ratusan Calhaj Sumenep Berstatus Risiko Tinggi, Pengawasan Kesehatan Diperketat
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebutkan, dari pertemuan Ekspos Hasil Survey Penanganan Covid-19 di Surabaya beberapa waktu lalu, dapat disimpulkan bahwa keterlambatan pasien untuk datang ke RS menjadi faktor banyaknya kasus kematian di Jatim akibat Covid-19.
Menurut Khofifah, terlambatnya penanganan pasien positif dipengaruhi oleh fenomena happy hypoxia atau penurunan kadar oksigen. Dalam kondisi ini, seseorang tidak menyadari jika kadar oksigen dalam tubuhnya menurun. Sebab, dirinya tidak mengalami gejala apapun.
[irp]
Adanya fenomena itu, Khofifah lantas menghimbau masyarakat agar tak khawatir untuk meminta perawatan jika telah terkonfirmasi positif Covid-19, karena hal tersebut diperlukan pengawasan ekstra bagi setiap pasien.
Baca juga: Said Abdullah Ingatkan Disiplin Kader, Cak Fauzi Bidik 15 Kursi DPRD Sumenep
"Masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak perlu menunda ke Rumah Sakit. RS Darurat Lapangan Indrapura selama ini cukup berhasil mencegah terjadinya happy hypoxia dengan monitoring saturasi oksigen yang ketat, bahkan sehari bisa dimonitor 3-4 kali,” ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jum'at (28/8/2020).
Khofifah juga menegaskan bahwa tingkat kematian di RS Darurat Lapangan Indrapura hingga saat ini adalah 0 persen dengan total 1.410 pasien yang telah dinyatakan sembuh.
Sementara itu, Ketua Tim Gugus Tugas Jatim dr Joni Wahyuadi menyampaikan bahwa cukup sering terjadi fenomena happy hypoxia di Jatim. Menurutnya, pasien memang terlihat sehat. Namun setelah dilakukan pemeriksaan ternyata kadar oksigennya turun di bawah 80 persen.
“Akhirnya baru berangkat ke Rumah Sakit ketika kondisinya sudah memburuk,” pungkasnya. (bro)
Editor : Redaksi