KLIKJATIM.Com | Gresik - Dalam kunjungan memperingati hari anak nasional di Kampung Wisata Setigi, Ujung Pangkah, Gresik. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan sudah 20% SMK melakukan sistem masuk sekolah tatap muka terbatas.
[irp]
"Sudah mulai ada yang masuk sekolah 20% SMK di Jatim, secara terbatas dan bertahap," kata bu Gubernur.
Dikonformasi secara terpisah, Kepala Cabang Dinas Gresik Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Puji Astuti mengatakan, meski dalam kunjungan Gubernur ke Gresik tempo hari yang menjelaskan sudah 20% SMK yang menjalani sekolah tatap muka terbatas, di Gresik masih belum ada semuanya sistem daring.
[irp]
"Sejauh ini SMA/SMK di Kabupaten Gresik semuanya sistem daring, kami tetap mengacu pada provinsi, dan belum ada surat edaran atau petunjuk resmi dari Provinsi untuk sekolah tatap muka terbatas," tandasnya kepada klikjatim.com, Senin (3/8/2020).
Sebagaimana dikutip di media katadata News, Sabtu (4/7/2020). Kemendikbud telah mengizinkan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka bagi sekolah yang berada di zona hijau atau wilayah memiliki tingkat risiko rendah atau terbebas dari kasus Covid-19.
Meski demikian, dalam penerapannya, ada tujuh syarat minimal alias daftar periksa bagi sekolah sebelum melaksanakan metode pembelajaran tersebut.
Syarat pertama, sekolah harus menyediakan sarana sanitasi yang meliputi hand sanitizer atau tempat cuci tangan, dan disinfektan. Kedua, sekolah harus menyediakan akses layanan kesehatan.Ketiga, pihak sekolah siap menerapkan area wajib masker. Keempat, sekolah wajib memiliki thermo gun alias alat pengukur suhu tubuh. Kelima, memetakan warga sekolah yang tidak boleh berkegiatan di lingkungan tersebut, antara lain mereka yang memiliki penyakit medis penyerta atau komorbid, tidak mempunyai akses transportasi yang mewajibkan jaga jarak.
Keenam, menyusun kesepakatan bersama di komite sekolah untuk memulai pembelajaran tatap muka. Ketujuh, orang tua atau wali murid harus memeriksa kondisi kesehatan anak sehingga mereka siap untuk mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah.
Seperti diketahui, pandemi Covid-19 telah menyebabkan kegiatan belajar dan mengajar dari rumah yang dibantu dengan alat digital. Setidaknya terdapat 4.183.591 guru/dosen yang mengajar melalui metode pembelajaran jarak jauh.
Baca juga: Jatim Raih Rekor MURI, Gubernur Khofifah dan PTA Surabaya Luncurkan Aplikasi Satria Majapahit Juara
Para guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiah paling banyak mengajar dari rumah. Jumlahnya mencapai 1.702.377 guru.
Kemudian pengajar Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah diikuti dengan 895.799 guru. Pembelajaran jarak jauh menekankan pada tatap muka virtual antara pengajar dengan murid. (bro)
Editor : Redaksi