KLIKJATIM.Com | Surabaya - Penerapan PSBB di sejumlah wilayah dengan angka positif Covid-19 tinggi merupakan salahsatu upaya Pemprov Jatim dalam menekan angkat kematian penyakit tersebut. Ada dua upaya lainnya yang digunakan Pemprov, sehingga kini hasilnya terasa dengan tingginya angka pasien sembuh.
[irp]
Baca juga: Gubernur dan Forkopimda Jatim Bersama Ribuan Buruh Peringati May Day 2026
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak saat melakukan web binar bersama I News diskusi tentang penanganan covid 19. Emil menambahkan, kasus kematian Covid-19 sebagian besar terjadi pada pasien dengan penyakit berisiko, antara lain diabetes, hypertensi dan gangguan jantung.
"Mereka inilah kata Emil yang perlu mendapatkan penanganan ekstra sejak awal," jelas Wagub Jatim.
Karena itu, selama ini ada tiga langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah provinsi. Pertama PSBB untuk mengendalikan angka penyebaran. Tujuannya, tidak banyak pasien yang dirujuk ke rumah sakit.
Kedua, pengaturan rumah sakit rujukan. Menurut emil, rumah sakit ini harus punya banyak space, sehingga bisa menanangi pasien dengan penyakit bewaan yang berisiko, seperti diabetes, hypertensi, dan ganguan jantung.
Ketiga, tata laksana, yakni penanganan lebih lanjut bagi pasien covid-19. Misalnya, kapan mereka harus memakai ventilator serta model pengobatannya. “Karena itu, beberapa waktu lalu Ibu Gubernur mendirikan RS Darurat dengan kapasitas 500 bed. Tujuannya, pasien Covid-19 yang ringan atau sedang bisa dirawat di sana. Bukan langsung ke rumah sakit rujukan,” katanya.
[irp]
Selain penanganan cepat terhadap pasien dengan risiko tinggi, Pemprov Jatim juga memperbanyak ruang isolasi dan rumah sakit darurat untuk pasien katagori ringan dan sedang.
Sementara itu Pengamat Kesehatan Universitas Airlangga (Unair) Atik Choirul Hidajah mengatakan, jumlah angka kematian Covid-19 di Jatim tinggi karena rasio pasien berisiko di Jatim cukup tinggi, terutama di Kota Surabaya.
“Case fatality rate (CFR) berkisar 8-9 persen. Ini tinggi sekali. Ini terjadi karena banyak hal, antara lain pasien covid-19 yang berusia lanjut lebih besar. Selain itu juga karena ada penyakit bawaan. Angkanya cukup besar,” katanya. (hen)
Editor : Redaksi