KLIKJATIM.Com | Sumenep – Musim kemarau tahun ini menghadirkan panorama yang berbeda dan memanjakan mata di Kabupaten Sumenep, Madura. Deretan pohon tabebuya yang tumbuh subur di sepanjang Jalan Dr. Cipto kini tengah memasuki masa mekar sempurna, mengubah wajah kawasan tersebut dengan hamparan warna merah muda, putih, dan kuning yang memukau.
Keindahan visual ini bahkan membuat banyak orang menyandingkannya dengan lanskap musim semi bunga sakura di Jepang. Titik paling ikonik yang menjadi pusat perhatian warga berada di ruas jalan mulai dari depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep hingga area sekitar RSUD dr. H. Moh. Anwar.
Baca juga: Hak Abdul Hamid Pulih, BRI Kembalikan SK Pensiun dan Hentikan Potongan Kredit
Ranting-ranting pohon yang dipenuhi kelopak bunga lebat bergelantungan indah, sukses menjadi magnet bagi warga setempat maupun pengguna jalan untuk menepi sejenak demi mengabadikan momen.
Abelia, salah seorang warga yang melintas, sengaja menghentikan kendaraannya hanya untuk menikmati panorama tersebut dari dekat. Ia mengaku terpesona melihat kontrasnya warna-warni bunga tabebuya di tengah terik musim kemarau.
"Kalau siang hari biasanya mata silau karena terik matahari. Tapi dengan adanya bunga-bunga ini, suasananya jadi terasa lebih teduh dan indah. Keindahannya mirip sekali dengan pemandangan bunga sakura di Jepang," ujarnya saat ditemui di lokasi, Jumat (3/7/2026).
Menurut Abelia, keberadaan bunga-bunga eksotis ini memberikan efek relaksasi yang positif bagi masyarakat sekitar, khususnya mereka yang sedang beraktivitas di area fasilitas kesehatan.
"Bagi warga yang sedang menunggu keluarga sakit di RSUD atau yang sedang merasa penat, pemandangan indah seperti ini bisa menjadi sedikit pengobat stres ketika keluar dari rumah sakit," tambah dia.
Baca juga: Harga Garam di Sampang Anjlok Hingga Rp30 Ribu per Karung, Petani Menjerit
Uniknya, rasa penasaran sempat membuat Abelia memungut beberapa kelopak bunga yang gugur ke tanah. Ia mengira bunga yang tampil cantik itu memiliki aroma yang wangi. "Saya sempat tergiur ingin mencium aromanya, ternyata bunganya tidak berbau wangi," katanya sembari tersenyum.
Senada dengan Abelia, warga lain bernama Rillah juga menilai mekarnya tabebuya menghadirkan nuansa baru yang menyegarkan di tengah musim kemarau yang identik dengan kesan gersang dan debu jalanan.
"Biasanya kemarau itu identik dengan pohon meranggas dan udara kering. Tapi tabebuya ini justru mekar lebat. Jalanan kota jadi terlihat jauh lebih cantik dan estetis, makanya banyak yang berhenti untuk foto-foto," tutur Rillah.
Baca juga: PAN Sumenep Perkuat Struktur hingga Desa, 500 Relawan Dikukuhkan
Secara botani, tanaman bernama ilmiah Tabebuia rosea ini dikenal luas di dunia internasional dengan sebutan Pink Trumpet Tree atau Pink Poui. Di tanah air, pohon ini kerap dijuluki sebagai "Sakura Indonesia" karena karakteristik mekarnya yang serempak sesaat setelah daun-daunnya rontok, menyajikan kemiripan visual dengan pohon sakura asli.
Meski kini jamak dijumpai sebagai tanaman peneduh dan penghias pembatas jalan di berbagai kota besar di Indonesia, tabebuya sebenarnya bukan tanaman endemik Nusantara. Pohon berkayu ini berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan.
Daya adaptasinya yang luar biasa terhadap iklim tropis, ketahanan tinggi pada cuaca panas ekstrem, serta nilai estetika yang tinggi menjadi alasan kuat mengapa pohon ini kini masif dibudayakan di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep.
Editor : Fatih