Produsen Bongko Kopyor Gresik Bertahan di Tengah Wabah Covid-19

klikjatim.com
Fathonah, pengrajin Bongko Kopyor asal Manyar Gresik. (Miftahul Faiz/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik - Setiap memasuki Ramadhan, Takjil khas Gresik Bongko Kopyor jadi buruan warga. Setiap menjelang buka puasa, para pedagang biasanya sudah berjejer di sepanjang jalan keramaian. Namun, saat ini kondisinya berbeda.

Jajanan kuliner takjil khas Gresik Bongko Kopyor ini sepi order, baik di dalam maupun keluar Kota. Pasalnya kuliner yang hanya ada di bulan Ramdahan ini biasanya mendapatkan orderan dari luar Kota Gresik. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang. 

Baca juga: Sambut 1448 Hijriah, Ratusan Siswa Yayasan Al-Abror Sukosewu Bojonegoro Semarakkan Pawai Ta'aruf

Salah satu perajin kuliner bongko kopyor, Fathonah (52) asal Desa Manyar Sido Mukti terus saja membuat kuliner khas Gresik itu.

Perajin yang turun temurun di Desa Manyar Sido Mukti mengaku, pandemi Covid-19 berpengaruh pada produksinya. Order ke luar kota mengalami penurunan drastis.

"Biasanya ada orderan dari Malang, Sidoarjo, Surabaya. Sekarang gak ada. Paling jauh Duduk Sampeyan Gresik. Itu juga  diambil online," tuturnya. Senin (4/5/2020).

Tangan terampil Fathonah terus mengiris daun pisang sambil menceritakan usaha kulinernya yang biasanya sehari bisa membuat bongko kopyor 300, 400, sampai 500 bungkus. Ada yang yang dibungkus daun pisang, ada juga yang dibungkus kotak kecil ice cream.

"Karena corona orderan turun drastis, sekarang sehari 200 bungkus, yang biasanya Ramadhan banyak pesanan, ada 300 sampai 400, 500," ucap Fathonah sambil berkaca-berkaca.

Fathona merinci macam bongko kopyor yang akan dijualnya. Ada bumbu kopyor, srikaya, dan tetel bumbu (Bubur).

Dia mematok harga Rp 7 ribu per bungkus. Yang akan diambil oleh pelanggannya. Sehari menghasilkan 200 bungkus. Yang rata-rata kisaran keuntungannya Rp 100 ribu atau Rp 150 ribu perharinya. 

"Hampir 50 % penurunan, dulu satu hari biasanya mencapai keuntungan Rp 500 ribu," imbuh Fathonah.

Baca juga: Sambut Libur Sekolah, Hotel Santika Gresik Hadirkan Promo Staycation 'School Holiday is Coming'

Ditambahkan, setelah dibuat diambil oleh pelanggan atau, kalau tidak habis dikembalikan,biasanya masih ada sisa 10, 20, 35 bungkus selama masa pandemi ini, kalau tidak ada corona pasti ludes.

Fathonah biasanya dalam jualannya bisa menarik pelanggan 20, 30 orang. Tapi sejak Corona apalagi PSBB yang membuat orang jarang keluar rumah hanya ada 10 sampai 15 pelanggan.

"Ada PSBB banyak orang tak mau keluar rumah," keluhnya.

Para pelanggan Fathonah  yang tetap ada 10 orang yang selalu ambil bongko kopyor dari tiga jenis itu. Dan hanya membuat di bulan Ramadhan saja, kecuali ada pesanan.

Adapun bahan dasar Bumbu kopyor, srikaya, tetel bumbu. (Bubur) dari tepung terigu, santen, telur, gula, pisang, nangka, degan, roti tawar. 

Baca juga: Honda Premium Matic Day Blitar Meriahkan Akhir Pekan, Padukan Komunitas Motor dan Program UKH

Fathonah menggeluti usaha ini sudah sekitar 20 tahun. Dia bertahan dengan empat karyawan yang terhitung masih keluarga sendiri.

Fathona bersama empat karyawan kerabatnya setiap siang menjelang sore sudah mempersiapkan bongko kopyor yang sudah terbungkus daun pisang dirumahnya. Dan satu persatu orderan datang mengambil untuk dijual dan dijajakan di Jalan Kota atau perumahan menjelang berbuka puasa.

"Tidak sampai ada pengurangan, 4 karyawan dari latar belakang keluarga dulu bisa beri upah mereka Rp1 juta sekarang  Rp 500 rb. Masih saudara semuanya," pungkas Fathonah sambil melayani pelanggan yang datang. (bro)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru