Baca juga: Dana Transfer Pusat 2026 Dipangkas Rp1,3 Triliun, Pemkab Bojonegoro Tak Gentar!
Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro Ani Pudji Ningrum mengatakan, sejauh ini pada awal tahun ada 27 kasus DBD dan dari seluruh kasus DBD yang terjadi tidak ada satupun yang mengakibatkan meninggal dunia Artinya CFR atau Case Fatalit Ratenya nol.
"Landai tidak ada kasus meninggal dunia, perlu diketahui DBD itu ada dua. Yaitu dengue dan demam berdarah," ungkap dr. Ani sapaan karibnya.
Ia menjelaskan, demam dengue merupakan demam akibat infeksi virus dengue. Kondisi ini sering disamakan dengan demam berdarah dengue. Padahal keduanya berbeda, terutama dari tingkat keparahan gejala dan penanganan yang akan dilakukan.
Demam dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kondisi ini bisa menimbulkan gejala yang bervariasi, mulai dari tanpa gejala. Hingga demam tinggi, sakit kepala, tidak enak badan, mual atau muncul ruam. Sementara itu, demam berdarah dengue adalah demam dengue tingkat lanjut.
"Perbedaan demam dengue dan demam berdarah dengue, pertama harus diketahui dulu bahwa demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue. Masa inkubasi atau timbulnya gejala setelah gigitan nyamuk kedua penyakit ini juga sama-sama 4–10 hari, gejalanya pun bisa berlangsung selama 2–7 hari," ujarnya.
Meski memiliki sejumlah kesamaan, demam dengue dengan demam berdarah dengue tidak sepenuhnya sama. Perbedaannya bisa dilihat dari gejala, tingkat keparahan hingga penanganan yang harus dilakukan.
Pihaknya juga mengimbau agar masyarakat memperkuat melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan memperkuat pelaksanaan gerakan 1 rumah 1 Jumantik (juru pemantau jentik). Termasuk menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air.
Lalu mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, yang membawa virus DBD pada manusia.
Kemudian, juga perlu mewaspadai apabila ada gejala panas terus menerus lebih dari dua hari, warga diminta segera cek laboratorium. Jangan menunggu penderita lemas, fase kritis terjadi di hari ke-4 yaitu mulai panas, lalu panasnya turun.
"Tetapi justru itulah fase kritis, jika ada gejala panas untuk segera periksa ke dokter, fasilitas kesehatan terdekat atau puskesmas," pungkasnya. (ris)
Baca juga: Basuki Terpilih Aklamasi Pimpin PPDI Bojonegoro 2025-2030
Baca juga: Wabup Bojonegoro Dorong Kreasi Olahan Bergizi untuk Anak
Editor : M Nur Afifullah