KLIKJATIM.Com | Sidoarjo - Meski terletak di pinggiran kota dan lokasinya mewah (mepet sawah), SMP Negeri 2 Sukodono tak mau kalah untuk menjadi sekolah unggulan. Terbaru, pemilik akronim Spenlos ini memburu predikat sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Timur. Sekolah Adiwiyata sendiri adalah predikat yang dianugerahkan kepada sekolah yang peduli lingkungan hidup serta mampu membangun budaya cinta lingkungan hidup sehat.
[irp]
Baca juga: Tuntut Transparansi UKT, Ratusan Mahasiswa Geruduk Rektorat Universitas Jember
Kepala sekolah SMPN 2 Sukodono, Masro Hidayati mengatakan Jalan terjal menuju itu telah ditempuh sejak lama. Setelah berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Sidoarjo tahun 2019, sejak saat itu pula Spenlos menetapkan tujuan untuk menjadi sekolah Adiwiyata Provinsi.
"Berbagai pembenahan dilakukan baik fisik maupun nonfisik, berbagai kegiatan peduli lingkungan hidup mulai dari penghijauan, pengelolaan sampah, pemeliharaan sanitasi, konservasi air dan energi, aksi lingkungan di luar sekolah, sampai pembuatan produk inovasi untuk memaksimalkan potensi sumber daya yang ada di sekolah, dilakukan dengan terintegrasi ke dalam kegiatan pembelajaran" jelasnya.
Ia menambahkan, misalnya kegiatan rumah kompos. Memanfaatkan banyaknya sampah guguran daun yang dihasilkan pohon-pohon di sekolah, siswa digerakkan untuk belajar mengubahnya menjadi pupuk kompos. Dengan bimbingan guru, siswa-siswi Spenlos terlibat langsung mulai dari pengumpulan sampah, pengolahan, sampai pada pengemasan untuk menjadi produk yang siap dipasarkan.
"Begitu pula dengan usaha-usaha lain seperti bank sampah, pembuatan lubang biopori, dan pemeliharaan tanaman. Semua dilakukan dengan melibatkan siswa untuk membentuk secara langsung rasa cinta dan kebiasaan peduli lingkungan" ujar Masro.
Baca juga: Wujudkan Asta Cita, Bojonegoro Masuk Daftar 15 Kabupaten Berkinerja Terbaik Nasional
Selain itu usaha-usaha inovatif lain yang dilakukan oleh Spenlos antara lain pengembangan kebun pisang berikut dengan produk turunannya seperti kripik pisang, es krim kulit pisang, dan roti pisang. Ada juga pengambangan kolam ikan memanfaatkan sumber daya air yang melimpah, juga pengembangan tanaman hidroponik.
"Ada juga inovasi produk minuman dari lidah buaya, virgin coconut oil (VCO), sampai kapsul herbal daun insulin-pare yang diketahui bermanfaat untuk antioksidan dan menurunkan kadar gula darah," jelas Masro.
Khusus untuk pisang dan produk turunannya, ke depan direncanakan akan mejadi ciri khas Spenlos, mengingat tanah di Sukodono terbukti sangat sesuai untuk mengembangkan komoditas tersebut."Meski sempat terhambat oleh pandemi yang membuat sekolah ‘kekurangan tangan’ untuk mengurusi fasilitas-fasilitas inovatifnya, Spenlos terus maju" Kata Masro.
Baca juga: Nekat Akhiri Hidup, Remaja Jember Ditemukan Meninggal Dunia di Belakang Ponpes
Pada tanggal 7 Oktober lalu, Spenlos telah menerima kunjungan tim verifikator lapangan yang dibentuk oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur. Secara umum hasilnya memuaskan. Tim verifikator banyak memuji, meski ada beberapa dokumen yang perlu diperbaiki. Tentu ada pula masukan-masukan untuk membuat lebih baik lagi, misalnya tentang pembinaan pedagang kaki lima di depan sekolah yang memang selama ini belum tersentuh kebijakan sekolah.
Saat ini, Spenlos masih menunggu pengumuman resmi hasil penilaian Sekolah Adiwiyata yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur. Tapi, bukan berarti usaha berhenti sampai di sini. Kalaupun nanti hasilnya sukses, itu belum puncaknya. Ia berharap Spenlos masih mau maju terus hingga menjadi Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional, lalu membidik gelar Eco Green School tingkat Asean. (bro)
Editor : Catur Rini