Ingin Berobat ke Bawean, WNI Meninggal Dunia saat Urus Paspor di KBRI Kuala Lumpur

klikjatim.com
Tamam (tengah berbaju merah) semasa hidup saat bersama keluarga. (istimewa)

KLIKJATIM.Com | Gresik - Kabar duka datang dari Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Bawean di Malaysia. Tamam Bin Ahmad, WNI asal Bawean yang akan berobat di tanah leluhurnya di Bawean, Gresik meninggal dunia saat mengurus paspor di Kantor KBRI Kuala Lumpur. Bapak tiga anak ini tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir pada Kamis (31/10/2019) kemarin. Diduga Tamam kecapean saat mengantri pengurusan paspor dan sedang dalam kondisi kurang baik kesehatannya.

Peristiwa memilukan ini bermula saat Taman berencana pulang ke Bawean. Dia memang sudah sekitar 15 tahun merantau di negeri jiran. Selain untuk melepas kerinduan kepada orang tua dan keluarga besarnya di Bawean, dia juga ingin berobat.

Baca juga: Kapasitas Kapal Tak Bertambah, Penumpang Arus Balik dari Pulau Bawean ke Daratan Gresik Terlantar

‌Kamis (31/10/2019) pagi, Tamam sudah datang ke Kantor KBRI Kuala Lumpur di Jalan Tun Razak untuk mengambil nomor antrian. Setelah menunggu lama sampai sekitar pukul 19.00 waktu setempat namanya juga belum dipanggil. Akhirnya, Tamam pamit untuk pulang terlebih dahulu karena kelelahan. "Tiba-tiba tubuhnya tergeletak di trotoar. Para warga yang melihat langsung menghampiri dan membantu. Setelah dilakukan pertolongan pertama, ternyata beliau sudah meninggal," ujar Buang bin Masrupi, Ketua Persatuan Gelam Bawean Malaysia (PGBM).

[irp]

Warga yang tinggal di Pejajaras Sungai Buloh Selangor Malaysia ini mengatakan, Tamam sejak muda memang sudah bekerja di Malaysia. Dia kemudian menikah dengan Uswatun Khairiyah, pekerja di Malaysia yang juga sekampung dengan Tamam. Dari pernikahan itu, dikarunai tiga anak, yaitu Fitriyah (24) Shari (22), dan Tazausnani (13). "Jadi sebelum menikah sampai punya anak di sini terus. Kemarin baru berencana pulang dan ternyata takdir berkata lain," ucapnya.

Baca juga: Kado Ramadan untuk Santri, Bank Jatim Hibahkan Mobil Operasional bagi Ponpes dan Ansor Bawean

Ditambahkan, meninggalnya Tamam ini menjadi kritik atas lambannya pelayanan di KBRI Kuala Lumpur. Antrian berjam-jam untuk memperbarui paspor sampai ke trotoar di depan kantor KBRI Kuala Lumpur. Antrian paspor di trotoar KBRI Kuala Lumpur ini memang sejak lama sudah dikeluhkan para WNI di Malaysia.

Buang menceritakan, ada beberapa temannya yang sejak jam 12.00 siang sudah harus mengambil antrian. Lalu mereka harus mengantri hingga larut malam untuk mendapatkan pelayanan terkait administrasi kependudukan tersebut. Bahkan, ada yang menunggu sampai pagi. Juga ada yang sampai tiga kali ke Kantor KBRI Kuala Lumpur tetapi masih belum mendapatkan layanan karena antrian yang tak berkesudahan.

"Ini jelas sistemnya yang harus diperbaiki. Ini evaluasi besar bagi Kementerian Lua Negeri Republik Indonesia, kantor imigrasi dan KBRI Kuala Lumpur," tegasnya.

Baca juga: Tahun Baruan, 4 Warga Sidoarjo Tersesat di Hutan Bawean

[irp]

Sebab, menurutnya pada tahun 2010 dahulu pengurusan bisa lebih baik. Sedangkan semakin ke sini pelayanan dan sistem antrian seperti malah lebih buruk. "Termasuk Pak Tamam ini juga korban dari lambannya pelayanan. Beliau sudah sejak pagi mengambil antrian, tetapi malam masih belum mendapatkan giliran," jelasnya. (iz/bro)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru