KLIKJATIM.Com | Surabaya - Kisah nyata ini dialami oleh dua orang sahabat bernama Sumi dan Slopong -bukan nama sebenarnya- saat mendaki Gunung Butak, Kabupaten Malang tiga tahun silam, tepatnya pada bulan Juli 2017.
[irp]
Slopong adalah salah satu mahasiswa di universitas negeri ternama di Jogjakarta. Sedangkan Sumi, saat itu masih menjadi mahasiswa aktif di salah satu kampus Islam yang berada di Surabaya. Keduanya sudah saling kenal sejak di pesantren di Kabupaten Jombang.
Singkat cerita, saat itu Slopong sengaja datang ke Surabaya. Ia berniat mengajak Sumi untuk mendaki Gunung Butak sembari menghabiskan masa libur panjang kuliahnya.
Berangkat dari kontrakan milik Sumi di kawasan Jalan Nginden, Surabaya, keduanya memulai perjalanan dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio berwarna biru. Mereka berangkat hari Kamis, pukul 10.00 WIB dan sampai di tujuan sekitar pukul 13.00 WIB.
Setibanya di kawasan Gunung Butak dan Gunung Panderman, mereka pun bergegas mencari tempat persewaan alat-alat gunung seperti tenda dan lain sebagainya, sebab mereka dari Surabaya sengaja tidak membawa peralatan apapun.
Usai mendapat peralatan, keduanya pun langsung melakukan registrasi di pos pendaftaran. Di situ, banyak juga para pendaki yang sedang melakukan registrasi. Dan di sinilah awal mula kisah mistis dan kejadian-kejadian ganjil dialami oleh Sumi dan Slopong. Sebab belum apa-apa, saat melakukan registrasi itu Slopong sudah diperingatkan oleh petugas di pos pendaftaran.
"Slopong tidak bilang apa-apa ke saya saat itu. Tapi seingat saya, dia cuma menguatkan dan meyakinkan saya untuk tetap naik. Dan katanya pas dia tanya-tanya ke petugas itu, untuk sampai ke puncak kita butuh waktu 4 jam," ujar Sumi menceritakan kisah mistisnya itu kepada klikjatim.com, Sabtu (21/11/2020).
Selesai melakukan registrasi, Sumi dan Slopong sepakat memulai perjalanan pukul 18.00 WIB. Dan, sambil menunggu waktu keberangkatan, mereka memilih untuk sejenak menghirup udara segar di salah satu warung kopi. Karena terlalu asyik ngobrol 'ngalor-ngidul', jarum jam ternyata sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.
"Kita spontan bingung karena sudah telat 4 jam. Dan kita baru nyewa alat-alat saja, sedangkan logistik belum beli. Nyari logistik itu kalau nggak salah sampai jam setengah 12 malam," ungkap Sumi.
Setelah dirasa cukup dan siap untuk memulai perjalanan, Slopong dan Sumi pun memberanikan diri berangkat ke puncak Gunung Butak tepat pukul 23.30 WIB. Padahal, saat itu kondisinya sedang kabut tebal, ditambah lagi bertepatan dengan malam Jum'at. Konon, Gunung Butak dikenal sebagai gunung sangat angker, dan masyarakat sekitar juga mempercayai hal itu.
Baca juga: Libur Long Weekend Kenaikan Isa Almasih, Penumpang KA di Jember Tembus 54 Ribu Orang
Meskipun hanya berdua, perlahan langkah kaki mereka mulai menelusuri jalan setapak. Tak pelak, kejadian-kejadian mistis pun mulai berdatangan. "Pas awal jalan kita langsung disambut suara macan. Entah itu beneran atau tidak, yang pasti suaranya jelas di balik semak-semak dan gelap," beber Sumi.
Mendengar suara itu, keduanya pun merasa was-was tak karuan. Betapa tidak, selain hanya berdua, hawa dingin bercampur kabut tebal semakin menambah aroma mistis pada malam Jum'at itu. Hanya berbekal pikiran positif, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan lagi-lagi, mereka dikejutkan oleh sesosok makhluk hitam bermata merah menyala tepat dihadapan mereka.
"Semakin dia mendekat semakin kelihatan, ternyata anjing hitam. Anehnya saat kita berpapasan, anjing itu malah melihat dan memandang kita dengan tatapan sangat tajam. Di situ kita semakin khawatir," kata Sumi.
Tak menghiraukan kejadian itu, sekitar pukul 04.30 WIB sampailah mereka di pos tiga pendakian Gunung Butak. Di sana, mereka memutuskan untuk mendirikan tenda di bawah pohon besar yang gosong bekas terbakar. Sumi tidur lebih awal saat itu.
Dan saat itulah, dimana Slopong melihat ada sejumlah wanita yang turut mendirikan tenda tepat di samping mereka. Rasa was-was pun hilang seketika itu sebab ada rombongan lain yang bergabung bersamanya.
"Bangun tidur Slopong keliling sekitar tempat camp, dia seperti nyari sesuatu tapi dia tidak menemukan. Nah, mungkin merasa ada yang ganjil akhirnya Slopong mengaku jika sebenarnya saat registrasi itu petugas sudah mengingatkan kalau berangkatnya lebih baik Jum'at pagi saja, jangan Kamis malam. Apalagi hanya berdua," papar Sumi.
Baca juga: Kabar Gembira! Polteknaker Perpanjang Pendaftaran SBP 2026 Hingga 27 Mei
Mendengar pengakuan itu, Sumi bergegas mengajak Slopong melanjutkan perjalanan. Namun kejadian yang tak disangka kembali menjumpai mereka. Dari tumpukan pohon-pohon roboh Sumi melihat sesosok nenek membawa kain jarik sedang melintas. Dalam benaknya, Sumi hanya bertanya-tanya kenapa ada nenek-nenek bisa sampai ke gunung hanya untuk mencari kayu bakar. Dan kejadian itu tepat pukul 05.00 WIB. "Nggak sampai beberapa menit, ada burung gagak loncat dari pohon ke pohon," tambah Sumi.
Seolah memberikan isyarat, burung gagak itu pun mereka ikuti, hingga akhirnya bertemulah dengan dua orang pendaki di sebuah jalur pendakian yang tak jauh dari pos tiga tersebut. (bersambung). (bro)
Editor : Redaksi