Warga Temukan Pekerja Fiktif, Program Tanam Mangrove di Pangkahkulon Gresik Terindikasi ‘Dimainkan’

Reporter : Abdul Aziz Qomar - klikjatim.com

Bibit mangrove yang telah ditanam di Pangkahkulon. (ist)

KLIKJATIM.Com | Gresik — Aroma dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan program Padat Karya Tanam Mangrove dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik semakin menguat. Pasalnya beberapa kejanggalan dan temuan terus mencuat ke permukaan.

BACA JUGA :  Guru Non PNS Jenjang TK Hingga SMP di Surabaya Bakal Dapat Insentif

Selain dugaan jumlah bibit yang ditanam tak sesuai Rencana Anggaran Belanja (RAB) dan juga spesifikasi, kini muncul indikasi pekerja fiktif. Bahkan, modus ini disebut-sebut untuk mengakali penggunaan anggaran agar bisa terserap besar.

Hal tersebut sesuai informasi yang dihimpun oleh klikjatim.com. Yaitu dalam pelaksanaan program tanam mangrove yang dikomando Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Desa Pangkahkulon ini, diduga memanfaatkan pekerja fiktif untuk menyelewengkan Honor Orang Kerja (HOK).

“Jadi kami menemukan ada 150 orang yang mendapat HOK, dan itu langsung dibayar ke rekening. Satu orang pekerja satu hari dibayar Rp 100 ribu selama 70 hari kerja, jadi satu pekerja idealnya seharusnya dapat Rp 7 juta,” beber seorang pengurus Pokmaswas Pangkahkulon yang minta namanya dirahasiakan.

Namun, temuannya di lapangan justru berbeda. Dia mengatakan, pekerjaan menanam mangrove hanya dilakukan 70 orang dari jumlah yang seharusnya 150 pekerja. Sedangkan sisanya 80 orang pekerja diduga fiktif.

Dan ironisnya, 80 orang yang disebut pekerja fiktif ini juga menerima honor sesuai uang masuk ke rekening yang telah disiapkan terlebih dulu senilai Rp 7 juta per orang. Jika dikalikan, maka uang yang mengalir kepada pekerja fiktif ini kurang lebih Rp 560 juta.

“Jadi lain-lain saya tidak tahu. Seharusnya proyek menanam mangrove ini 70 hari, namun dikerjakan hanya 42 hari,” tambahnya.

Dugaan pekerja fiktif semakin diperkuat oleh Choirul Rozi. Dia mengaku diajak kongkalikong oleh oknum pengurus Pokmaswas Pangkahkulon sebagai pekerja fiktif.

Cerita awalnya, Rozi diminta untuk setor KTP dan dijanjikan mendapatkan uang Rp 1,4 juta jika bersedia dibuatkan rekening. Namun, ia tanpa harus bekerja menanam mangrove.

Dan kata Rozi, dirinya hanya diberi Rp 900 ribu. Itu pun dibayar dua kali, yakni Rp 400 ribu dan Rp 500 ribu. Dia kaget karena tak seperti yang dijanjikan sebelumnya.

“Ya dijanjikan akan diberi Rp 1,4 juta. Saya hanya dibuatkan rekening bank BRI, lalu semuanya buku rekening dan juga ATM dibawa oleh pengurus,” ungkapnya.

Rozi pun mengaku, bahwa dirinya masih untung diberi Rp 900 ribu. Malahan ada masyarakat yang juga dijadikan pekerja fiktif, tapi hanya diberikan Rp 500 ribu. Bahkan ada yang tidak diberi uang sama sekali.

“Katanya hanya buat uang bensin saja. Kan kami tidak berkeja apa-apa, cuma setor KTP, lalu dibuatkan rekening oleh pengurus Pokmaswas,” paparnya.

Kemudian dalam melancarkan akal bulusnya setelah pekerja fiktif tandatangan pembuatan buku rekening dan ATM di Bank BRI, oknum pengurus Pokmaswas setempat mengganti seluruh PIN ATM dengan kode yang sama.

“Saya diajak ke Bank BRI hanya tanda tangan saja. Pas keluar dari bank, buku rekening dan ATM dibawa pengurus Pokmaswas. Dan baru ke esokan harinya saya diberi uang,” jelasnya.

Seperti diketahui, program penanaman mangrove ini adalah upaya pemulihan ekonomi nasional (PEN) akibat Covid-19 yang dilaksanakan oleh Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Solo. Dan khusus di Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, pelaksananya adalah Kelompok Masyarakat Pengawas desa setempat yang diketuai oleh Saeri.

Ketika itu klikjatim.com juga sempat mengkonfirmasi kepada pihak Pokmaswas melalui Sekretaris, M Robach. Dalam berita sebelumnya, dia membantah atas semua tuduhan terkait dugaan penyelewengan pada pekerjaan penanaman mangrove tersebut.

Dia juga mengaku telah menyelesaikan SPj, dan hasil pekerjaannya pun sudah diserahkan kepada BPDASHL. “Kami diawasi langsung oleh BPDASHL, dan dikasih bimbingan saat pengerjaan sampai laporan,” ungkapnya kala itu. (nul)