Viral Video Pembakaran APD dan Pelemparan Petugas Pemakaman Covid-19 di Probolinggo

Reporter : Tsabit Mantovani - klikjatim.com

Ilustrasi pemakaman Covid-19

KLIKJATIM.Com I Probolinggo – Viral sebuah video yang menunjukkan pembakaran APD dan peti mati serta pengusiran ambulan pembawa jenazah pasien Covid-19. Diduga video tersebut adalah warga di Kecamatan Pakuniran Kabupaten Probolinggo menolak pemakaman jenazah Probable COVID-19 dengan cara protokol kesehatan. Warga Desa Gunggungan Lor, Minggu (4/10/2020).

BACA JUGA :  Perkemahan Sehat Era Pandemi Digelar di Jember, Harapannya Bisa Jadi Referensi Pramuka Indonesia

Mobil ambulans jenazah yang membawa almarhum MSI (70), datang dengan pengawalan ketat dari anggota TNI dan Polri. Pada saat jenazah yang berada di peti mati diturunkan, tiba-tiba keluarga dan warga meminta jenazah dikeluarkan dari dalam peti. Petugas pun menolak permintaan warga.

Dari sanalah, warga mengamuk dan mengusir petugas pengantar jenazah keluar dari kampungnya. Bahkan warga sempat melempari mobil ambulans dengan batu, hingga akhirnya kericuhan mereda saat ambulan jenazah meninggalkan tempat.

Sebelumnya, warga mengeluarkan membuka dan mengeluarkan jenazah dari peti. Jenazah kemudian dibawa ke musala untuk disalatkan. Prosesi pemakaman hingga penutupan liang lahat, dilakukan warga tanpa protokol kesehatan. Sementara aparat dan petugas tim Satgas COVID-19 dan Forkopimka Pakuniran, hanya berjaga-jaga di sekitar lokasi pemakaman MSI.

Koordinator Penegakan Hukum Satgas COVID-19 Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto menyesalkan aksi yang dilakukan warga. Padahal sebelumnya, saat masih di kamar jenazah RS Rizani Paiton, pihak keluarga sanggup dan sepakat pemakaman dilakukan protokol kesehatan, meski status pasien meninggal masih Probable COVID-19.

“Awalnya sepakat keluarga akan dimakamkan secara protokol kesehatan saat di rumah sakit Rizani di Kecamatan Paiton. Namun setelah tiba di rumah duka, keluarga pasien menolak, dan sempat mengusir petugas. Bahkan peti mati dibuka dan APD dibakar sama warga, keluarga memilih memakamkan sendiri seperti biasa,” ujar Ugas saat dikonfirmasi melalui ponselnya.

Sementara Hari Pribadi, Camat Pakuniran, pasien meninggal itu sebelumnya dirawat di RS Rizani Paiton, dengan keluhan sesak nafas menahun. Saat dirapid test, hasilnya reaktif. Hanya saja hasil swab masih belum keluar. Menurutnya, penolakan warga terjadi, karena masih banyak warga menganggap COVID-19 sebagai aib.

Pihaknya berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Dan berpesan kepada warga untuk bisa menahan diri dan tidak terprovokasi, hingga nantinya bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. (hen)